SOSIOLOGI
EKONOMI
Apresiation
Reflection Creation
Pasar Tradisional Pucang Sawit Surakarta

Oleh :
Widia Lestari
D0313080
JURUSAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015
Apresiation
Reflection Creation
Pasar Tradisional Pucang Sawit Surakarta
a. Apresiation Pasar Pucang Sawit
Pasar yang
terletak di kelurahan pucangsawit kecamatan jebres Surakarta ini diresmikan oleh walikota Solo Jokowi pada
tanggal 25 februari 2011. Pasar yang terletak dipusat kecamatan Jebres ini
sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat Solo. Pasar ini sangat luas, besar
dan masih tampak bangunan baru dari luar. Dengan kios yang sangat banyak dan
terdiri dari lantai satu sampai lantai dua sangat terlihat megah ketika orang melihat dari luar. Di depan
pasar juga terlihat banyak yang berjualan makanan dipinggir jalan raya.
Pemandangan luar dan menuju pasar inipun terlihat ramai dengan orang berjualan
tanaman dan lapak dipingir jalan depan lokasi pasar berdiri.
Mulai memasuki dalam pasar saya terkejut ketika
memasuki dalam pasar. Karena bangunan
yang begitu besar tampak dari luar namun hanya ada sekitar 15 kios saja yang
membuka lapak dagangannya.Definisi pasar yang ada dalam benak saya adalah
tempat yang dipenuhi dengan para penjual yang banyak dan di penuhi dengan para
pembeli yang berdesak-desakan. Namun berbeda tampaknya dengan keadaan di pasar
pucang sawit.
Tawar menawar memang terjadi disana namun hanya
segelintir saja pembeli yang keluar masuk pasar tersebut. Alat transaksi yang
mereka lakukan sama seperti pasar-pasar pada umumnya lakukan dengan uang
terlihat ketika saya mengamati salah satu pembeli yang membeli sembako disalah
satu kios pasar tersebut.
Mengamati kios demi kios, hanya dilantai satu transaksi
jual beli dilakukan dan lantai dua dibiarkan kosong kumuh dipenuhi
kotoran-kotoran hewan tanpa penghuni. Meskipun sudah disiapkan banyak lapak di
lantai dua tidak ada satupun yang berjualan disana hanya para petugas dinas
pasar yang berada disana. Dari 15 kios terdiri dari para pedagang yang menjual
pakan peralaan burung, makanan kering(snack), sembako, soto dan berbagai
minuman. Kumpulan dari orang yang ada dipasar hanyalah para pedagang yang
sedang duduk menunggu barang dagangannya laku dan beberapa petugas dinas pasar yang sedang santai di lantai dua. Didalam
terlihat seolah-olah bukan pasar karena dari puluhan kios yang tersedia hanya
10% saja yang digunakan. Banyak dari mereka sudah tampak membereskan barang
dagangan dan akan pulang pada pukul 10.30. Menurut saya mungkin transaksi yang
mereka lakukan banyak terjadi pada pagi hari. Sangat miris tampaknya pasar yang
sangat mewah dan besar ini hanya dibiarkan begitu saja.
B. Merefleksikan Keadaan Pasar Tradisional Pucang Sawit
Melihat
keadaan pasar yang sudah saya jelaskan diatas tampak bahwa definisi pasar yang
saya fikirkan di Pucang sawit berbeda keadaanya dengan pasar-pasar lain yang
pernah saya kunjungi dikota Surakarta. Namun tidak berbeda dari sisi pola tawar
menawar yang kerap para penjual dan pembeli lakukan ketika belanja di Pasar
Tradisional. Dari sisi alat tukarpun juga sudah mengunakan uang tidak seperti
masa lampau yang barter dengan menukarkan barang dengan barang.
Terkait
dengan masalah pertukaran yang dilakukan oleh para penjual dan pembeli dapat
dikaitkan dengan Teori Pertukaran Sosial
Peter Blau yang saling menukar cost dan reward (biaya dan ganjaran). Hal
itu terjadi pula dalam kehidupan sehari-hari yang tumbuh di masyarakat pasar.
Karena segala yang dilakukan oleh penjual dan pembeli sering kali membentuk
perilaku sosial yang selalu berorientasi pada tujuan. Berikut merupakan
kegiatan yang berorientasi dalam pasar:
Tawar menawar,
pengamatan yang saya lakukan ketika penjual dan pembeli sedang melakukan
transaksi “mereka saling beradu pendapat mempertahankan harga si pembeli
berfikir rasional menginginkan harga murah dan dengan memperoleh barang yang
berkualitas , dan si penjual mempertahankan harga yang dia jual”.(tampak ketika
setiap transaksi yang mereka lakukan). Namun didalam tawar menawar banyak
terjadi kegiatan atau kebiasaan yang kerap sekali melekat pada penjual dan
pembeli. Secara tidak lagsung mereka menjalin ikatan sosial. Sehingga
menghasilkan keuntungan bagi keduanya. Si penjual akan memperoleh keuntungan
pelanggan yang banyak dan si pembeli akan mendapatkan keuntungan berupa
potongan harga karena sudah saling mengenal. Dalam hal ini teori pertukaran
sesuai dengan apa yang terjadi dalam transaksi yang ada di pasar pucangsawit
bahwa “manusia dalam berinteraksi akan selalu berorientasi pada motif dan
tujuan.
Tingkat Keramaian Pembeli, mungkin
ini berbeda pendapat dengan pengamatan di pasar lain. Saya menyadari bahwa
tingkat keramaian juga akan mempengaruhi image
pasar. Ketika pasar ramai maka akan semakin banyak pengunjung yang datang untuk
melakukan jual beli. Dan ketika pasar sepi kepercayaan seseorang untuk
berbelanja di suatu pasar tersebut akan berkurang. Terlihat dalam keadaan pasar
pucangsawit semakin sedikit para pnjual maka semakin tampak pembeli yang amat
sedikit berbeda ketika berada dipasar Gede misalnya disana banyak penjual dan
banyak pula pembeli yang memenuhi pasar hampir ditiap kios di kerumuni oleh
para pembeli.
Saling
Mendukung Menjual Barang, kegiatan ini tampak di pasar pucang sawit ketika
ada pembeli ingin membeli gula jawa di kios (x) namun tidak ada dan si penjual
langsung meminjamkan di kios sebelah. Ini terlihat bahwa kekompakan juga mereka
jalin meskipun dipasar mereka juga ada unsure persaingan antara penjual satu
dengan yang lain.
C. Creation Keadaan Pasar Tradisional
Pucang Sawit
Setelah
melakukan pegamatan di pasar pucangsawit dengan melihat keadaan pasar sepi tidak menutup kemungkinan untuk mengelola pasar menjadi ramai kembali. Karena
sebenarnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh penjual dan pembeli di pasar
ini tidak jauh berbeda dengan pasar lain. Hanya saja kemakmuran penjual di
pasar pucang sawit lebih rendah dibanding pasar lain. Di pucang sawit mungkin
mereka hanya mendapatkan sedikit omset namun dipasar-pasar lain yang ramai
mereka bisa mendapatkan omset yang besar.
Perlu adanya promosi dan perombakan
sistem untuk pasar pucangsawit agar menjadi pasar yang produktif. Sebenarnya
pemerintah kota Surakarta berperan besar dalam memajukan pasar ini misalnya
saja dengan melakukan lelang kios. Jadi banyak orang yang berbondong-bondong untuk
melelang. Itu semua upaya yang dapat menarik penjual setidaknya jika banyak penjual
dan terdiri dari variassi pedagang maka lama kelamaan pembeli akan datang seiring
berjalannya waktu. Selain itu penjual juga bisa memasang spanduk-spanduk
menarik tentang barang yang mereka jual agar para masyarakat yang melewati
pasar tersebut bisa tertarik untuk membeli di pasar. Pemerintah harus berjuang
keras untuk ini karena percuma pasar besar megah tapi tidak ada yang berjualan
disana. Seperti layaknya pasar mati. Ketertarikan masyarakat akan pasar tradisional
adalah keanekaragaman dan keramaian. Ketika penjual di pasar tidak menyediakan
kebutuhan masyarakat yang beragam dan keramaian tidak tampak. Maka banyak orang
akan jenuh untuk berbelanja di sebuah pasar.
Itulah sekilas pengamatan yang saya
lakukan pada hari kamis, 26 agustus 2014 di pasar pucang sawit Surakarta.
Semoga dapat menjadikan perenungan untuk saya sendiri mengenai pemahaman
keramaian pasar itu penting.
Sumber
:George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi dari Teori Sosiologi
Klasik sampai perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern
Dokumentasi

Gambar
Pasar

Gambar
kios yang tampak ramaihanya 2 kios

Kios
kosong

SOSIOLOGI
EKONOMI
Apresiation
Reflection Creation
Pasar Tradisional Pucang Sawit Surakarta

Oleh :
Widia Lestari
D0313080
JURUSAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015
Apresiation
Reflection Creation
Pasar Tradisional Pucang Sawit Surakarta
a. Pengamatan Pasar Pucang Sawit
Pasar yang
terletak di kelurahan pucangsawit kecamatan jebres Surakarta ini diresmikan oleh walikota Solo Jokowi pada
tanggal 25 februari 2011. Pasar yang terletak dipusat kecamatan Jebres ini
sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat Solo. Pasar ini sangat luas, besar
dan masih tampak bangunan baru dari luar. Dengan kios yang sangat banyak dan
terdiri dari lantai satu sampai lantai dua sangat terlihat megah ketika orang melihat dari luar. Di depan
pasar juga terlihat banyak yang berjualan makanan dipinggir jalan raya.
Pemandangan luar dan menuju pasar inipun terlihat ramai dengan orang berjualan
tanaman dan lapak dipingir jalan depan lokasi pasar berdiri.
Mulai memasuki dalam pasar saya terkejut ketika
memasuki dalam pasar. Karena bangunan
yang begitu besar tampak dari luar namun hanya ada sekitar 15 kios saja yang
membuka lapak dagangannya.Definisi pasar yang ada dalam benak saya adalah
tempat yang dipenuhi dengan para penjual yang banyak dan di penuhi dengan para
pembeli yang berdesak-desakan. Namun berbeda tampaknya dengan keadaan di pasar
pucang sawit.
Tawar menawar memang terjadi disana namun hanya
segelintir saja pembeli yang keluar masuk pasar tersebut. Alat transaksi yang
mereka lakukan sama seperti pasar-pasar pada umumnya lakukan dengan uang
terlihat ketika saya mengamati salah satu pembeli yang membeli sembako disalah
satu kios pasar tersebut.
Mengamati kios demi kios, hanya dilantai satu transaksi
jual beli dilakukan dan lantai dua dibiarkan kosong kumuh dipenuhi
kotoran-kotoran hewan tanpa penghuni. Meskipun sudah disiapkan banyak lapak di
lantai dua tidak ada satupun yang berjualan disana hanya para petugas dinas
pasar yang berada disana. Dari 15 kios terdiri dari para pedagang yang menjual
pakan peralaan burung, makanan kering(snack), sembako, soto dan berbagai
minuman. Kumpulan dari orang yang ada dipasar hanyalah para pedagang yang
sedang duduk menunggu barang dagangannya laku dan beberapa petugas dinas pasar yang sedang santai di lantai dua. Didalam
terlihat seolah-olah bukan pasar karena dari puluhan kios yang tersedia hanya
10% saja yang digunakan. Banyak dari mereka sudah tampak membereskan barang
dagangan dan akan pulang pada pukul 10.30. Menurut saya mungkin transaksi yang
mereka lakukan banyak terjadi pada pagi hari. Sangat miris tampaknya pasar yang
sangat mewah dan besar ini hanya dibiarkan begitu saja.
B. Merefleksikan Keadaan Pasar Tradisional Pucang Sawit
Melihat
keadaan pasar yang sudah saya jelaskan diatas tampak bahwa definisi pasar yang
saya fikirkan di Pucang sawit berbeda keadaanya dengan pasar-pasar lain yang
pernah saya kunjungi dikota Surakarta. Namun tidak berbeda dari sisi pola tawar
menawar yang kerap para penjual dan pembeli lakukan ketika belanja di Pasar
Tradisional. Dari sisi alat tukarpun juga sudah mengunakan uang tidak seperti
masa lampau yang barter dengan menukarkan barang dengan barang.
Terkait
dengan masalah pertukaran yang dilakukan oleh para penjual dan pembeli dapat
dikaitkan dengan Teori Pertukaran Sosial
Peter Blau yang saling menukar cost dan reward (biaya dan ganjaran). Hal
itu terjadi pula dalam kehidupan sehari-hari yang tumbuh di masyarakat pasar.
Karena segala yang dilakukan oleh penjual dan pembeli sering kali membentuk
perilaku sosial yang selalu berorientasi pada tujuan. Berikut merupakan
kegiatan yang berorientasi dalam pasar:
Tawar menawar,
pengamatan yang saya lakukan ketika penjual dan pembeli sedang melakukan
transaksi “mereka saling beradu pendapat mempertahankan harga si pembeli
berfikir rasional menginginkan harga murah dan dengan memperoleh barang yang
berkualitas , dan si penjual mempertahankan harga yang dia jual”.(tampak ketika
setiap transaksi yang mereka lakukan). Namun didalam tawar menawar banyak
terjadi kegiatan atau kebiasaan yang kerap sekali melekat pada penjual dan
pembeli. Secara tidak lagsung mereka menjalin ikatan sosial. Sehingga
menghasilkan keuntungan bagi keduanya. Si penjual akan memperoleh keuntungan
pelanggan yang banyak dan si pembeli akan mendapatkan keuntungan berupa
potongan harga karena sudah saling mengenal. Dalam hal ini teori pertukaran
sesuai dengan apa yang terjadi dalam transaksi yang ada di pasar pucangsawit
bahwa “manusia dalam berinteraksi akan selalu berorientasi pada motif dan
tujuan.
Tingkat Keramaian Pembeli, mungkin
ini berbeda pendapat dengan pengamatan di pasar lain. Saya menyadari bahwa
tingkat keramaian juga akan mempengaruhi image
pasar. Ketika pasar ramai maka akan semakin banyak pengunjung yang datang untuk
melakukan jual beli. Dan ketika pasar sepi kepercayaan seseorang untuk
berbelanja di suatu pasar tersebut akan berkurang. Terlihat dalam keadaan pasar
pucangsawit semakin sedikit para pnjual maka semakin tampak pembeli yang amat
sedikit berbeda ketika berada dipasar Gede misalnya disana banyak penjual dan
banyak pula pembeli yang memenuhi pasar hampir ditiap kios di kerumuni oleh
para pembeli.
Saling
Mendukung Menjual Barang, kegiatan ini tampak di pasar pucang sawit ketika
ada pembeli ingin membeli gula jawa di kios (x) namun tidak ada dan si penjual
langsung meminjamkan di kios sebelah. Ini terlihat bahwa kekompakan juga mereka
jalin meskipun dipasar mereka juga ada unsure persaingan antara penjual satu
dengan yang lain.
C.
Apresiasi Keadaan Pasar Tradisional
Pucang Sawit
Setelah
melakukan pegamatan di pasar pucangsawit dengan melihat keadaan pasar sepi tidak menutup kemungkinan untuk mengelola pasar menjadi ramai kembali. Karena
sebenarnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh penjual dan pembeli di pasar
ini tidak jauh berbeda dengan pasar lain. Hanya saja kemakmuran penjual di
pasar pucang sawit lebih rendah dibanding pasar lain. Di pucang sawit mungkin
mereka hanya mendapatkan sedikit omset namun dipasar-pasar lain yang ramai
mereka bisa mendapatkan omset yang besar.
Perlu adanya promosi dan perombakan
sistem untuk pasar pucangsawit agar menjadi pasar yang produktif. Sebenarnya
pemerintah kota Surakarta berperan besar dalam memajukan pasar ini misalnya
saja dengan melakukan lelang kios. Jadi banyak orang yang berbondong-bondong untuk
melelang. Itu semua upaya yang dapat menarik penjual setidaknya jika banyak penjual
dan terdiri dari variassi pedagang maka lama kelamaan pembeli akan datang seiring
berjalannya waktu. Selain itu penjual juga bisa memasang spanduk-spanduk
menarik tentang barang yang mereka jual agar para masyarakat yang melewati
pasar tersebut bisa tertarik untuk membeli di pasar. Pemerintah harus berjuang
keras untuk ini karena percuma pasar besar megah tapi tidak ada yang berjualan
disana. Seperti layaknya pasar mati. Ketertarikan masyarakat akan pasar tradisional
adalah keanekaragaman dan keramaian. Ketika penjual di pasar tidak menyediakan
kebutuhan masyarakat yang beragam dan keramaian tidak tampak. Maka banyak orang
akan jenuh untuk berbelanja di sebuah pasar.
Itulah sekilas pengamatan yang saya
lakukan pada hari kamis, 26 agustus 2014 di pasar pucang sawit Surakarta.
Semoga dapat menjadikan perenungan untuk saya sendiri mengenai pemahaman
keramaian pasar itu penting.
Sumber
:George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi dari Teori Sosiologi
Klasik sampai perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern
Dokumentasi

Gambar
Pasar

Gambar
kios yang tampak ramaihanya 2 kios

Kios
kosong

Borgata Hotel Casino & Spa - MapYRO
ReplyDeleteBorgata Hotel 태백 출장샵 Casino & Spa. 1xbet korean 813 W 오산 출장샵 Flamingo 군포 출장안마 Way. Atlantic City, NJ 08401. Directions. Borgata Hotel Casino 의왕 출장샵 & Spa - 08401 United States of America