Sunday, March 1, 2015

ARC PASAR PUCANG SAWIT SURAKARTA



SOSIOLOGI EKONOMI
Apresiation Reflection Creation
Pasar  Tradisional Pucang Sawit Surakarta


Logo_UNS
Oleh :
     Widia Lestari
D0313080

JURUSAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015
Apresiation Reflection Creation
Pasar  Tradisional Pucang Sawit Surakarta

a. Apresiation Pasar Pucang Sawit

Pasar  yang terletak di kelurahan pucangsawit kecamatan jebres Surakarta ini  diresmikan oleh walikota Solo Jokowi pada tanggal 25 februari 2011. Pasar yang terletak dipusat kecamatan Jebres ini sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat Solo. Pasar ini sangat luas, besar dan masih tampak bangunan baru dari luar. Dengan kios yang sangat banyak dan terdiri dari lantai satu sampai lantai dua sangat terlihat  megah ketika orang melihat dari luar. Di depan pasar juga terlihat banyak yang berjualan makanan dipinggir jalan raya. Pemandangan luar dan menuju pasar inipun terlihat ramai dengan orang berjualan tanaman dan lapak dipingir jalan depan lokasi pasar berdiri.
Mulai memasuki dalam pasar saya terkejut ketika memasuki dalam pasar.    Karena bangunan yang begitu besar tampak dari luar namun hanya ada sekitar 15 kios saja yang membuka lapak dagangannya.Definisi pasar yang ada dalam benak saya adalah tempat yang dipenuhi dengan para penjual yang banyak dan di penuhi dengan para pembeli yang berdesak-desakan. Namun berbeda tampaknya dengan keadaan di pasar pucang sawit.
Tawar menawar memang terjadi disana namun hanya segelintir saja pembeli yang keluar masuk pasar tersebut. Alat transaksi yang mereka lakukan sama seperti pasar-pasar pada umumnya lakukan dengan uang terlihat ketika saya mengamati salah satu pembeli yang membeli sembako disalah satu kios pasar tersebut.
Mengamati kios demi kios, hanya dilantai satu transaksi jual beli dilakukan dan lantai dua dibiarkan kosong kumuh dipenuhi kotoran-kotoran hewan tanpa penghuni. Meskipun sudah disiapkan banyak lapak di lantai dua tidak ada satupun yang berjualan disana hanya para petugas dinas pasar yang berada disana. Dari 15 kios terdiri dari para pedagang yang menjual pakan peralaan burung, makanan kering(snack), sembako, soto dan berbagai minuman. Kumpulan dari orang yang ada dipasar hanyalah para pedagang yang sedang duduk menunggu barang dagangannya laku dan beberapa petugas dinas  pasar yang sedang santai di lantai dua. Didalam terlihat seolah-olah bukan pasar karena dari puluhan kios yang tersedia hanya 10% saja yang digunakan. Banyak dari mereka sudah tampak membereskan barang dagangan dan akan pulang pada pukul 10.30. Menurut saya mungkin transaksi yang mereka lakukan banyak terjadi pada pagi hari. Sangat miris tampaknya pasar yang sangat mewah dan besar ini hanya dibiarkan begitu saja.
            B. Merefleksikan Keadaan Pasar Tradisional Pucang Sawit
Melihat keadaan pasar yang sudah saya jelaskan diatas tampak bahwa definisi pasar yang saya fikirkan di Pucang sawit berbeda keadaanya dengan pasar-pasar lain yang pernah saya kunjungi dikota Surakarta. Namun tidak berbeda dari sisi pola tawar menawar yang kerap para penjual dan pembeli lakukan ketika belanja di Pasar Tradisional. Dari sisi alat tukarpun juga sudah mengunakan uang tidak seperti masa lampau yang barter dengan menukarkan barang dengan barang.
Terkait dengan masalah pertukaran yang dilakukan oleh para penjual dan pembeli dapat dikaitkan dengan Teori Pertukaran Sosial Peter Blau yang saling menukar cost dan reward (biaya dan ganjaran). Hal itu terjadi pula dalam kehidupan sehari-hari yang tumbuh di masyarakat pasar. Karena segala yang dilakukan oleh penjual dan pembeli sering kali membentuk perilaku sosial yang selalu berorientasi pada tujuan. Berikut merupakan kegiatan yang berorientasi dalam pasar:
Tawar menawar, pengamatan yang saya lakukan ketika penjual dan pembeli sedang melakukan transaksi “mereka saling beradu pendapat mempertahankan harga si pembeli berfikir rasional menginginkan harga murah dan dengan memperoleh barang yang berkualitas , dan si penjual mempertahankan harga yang dia jual”.(tampak ketika setiap transaksi yang mereka lakukan). Namun didalam tawar menawar banyak terjadi kegiatan atau kebiasaan yang kerap sekali melekat pada penjual dan pembeli. Secara tidak lagsung mereka menjalin ikatan sosial. Sehingga menghasilkan keuntungan bagi keduanya. Si penjual akan memperoleh keuntungan pelanggan yang banyak dan si pembeli akan mendapatkan keuntungan berupa potongan harga karena sudah saling mengenal. Dalam hal ini teori pertukaran sesuai dengan apa yang terjadi dalam transaksi yang ada di pasar pucangsawit bahwa “manusia dalam berinteraksi akan selalu berorientasi pada motif dan tujuan.
Tingkat Keramaian Pembeli, mungkin ini berbeda pendapat dengan pengamatan di pasar lain. Saya menyadari bahwa tingkat keramaian juga akan mempengaruhi image pasar. Ketika pasar ramai maka akan semakin banyak pengunjung yang datang untuk melakukan jual beli. Dan ketika pasar sepi kepercayaan seseorang untuk berbelanja di suatu pasar tersebut akan berkurang. Terlihat dalam keadaan pasar pucangsawit semakin sedikit para pnjual maka semakin tampak pembeli yang amat sedikit berbeda ketika berada dipasar Gede misalnya disana banyak penjual dan banyak pula pembeli yang memenuhi pasar hampir ditiap kios di kerumuni oleh para pembeli.
            Saling Mendukung Menjual Barang, kegiatan ini tampak di pasar pucang sawit ketika ada pembeli ingin membeli gula jawa di kios (x) namun tidak ada dan si penjual langsung meminjamkan di kios sebelah. Ini terlihat bahwa kekompakan juga mereka jalin meskipun dipasar mereka juga ada unsure persaingan antara penjual satu dengan yang lain.

C. Creation  Keadaan Pasar Tradisional Pucang Sawit
            Setelah melakukan pegamatan di pasar pucangsawit dengan melihat keadaan pasar  sepi tidak menutup kemungkinan untuk  mengelola pasar menjadi ramai kembali. Karena sebenarnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh penjual dan pembeli di pasar ini tidak jauh berbeda dengan pasar lain. Hanya saja kemakmuran penjual di pasar pucang sawit lebih rendah dibanding pasar lain. Di pucang sawit mungkin mereka hanya mendapatkan sedikit omset namun dipasar-pasar lain yang ramai mereka bisa mendapatkan omset yang besar.
            Perlu adanya promosi dan perombakan sistem untuk pasar pucangsawit agar menjadi pasar yang produktif. Sebenarnya pemerintah kota Surakarta berperan besar dalam memajukan pasar ini misalnya saja dengan melakukan lelang kios. Jadi banyak orang yang berbondong-bondong untuk melelang. Itu semua upaya yang dapat menarik penjual setidaknya jika banyak penjual dan terdiri dari variassi pedagang maka lama kelamaan pembeli akan datang seiring berjalannya waktu. Selain itu penjual juga bisa memasang spanduk-spanduk menarik tentang barang yang mereka jual agar para masyarakat yang melewati pasar tersebut bisa tertarik untuk membeli di pasar. Pemerintah harus berjuang keras untuk ini karena percuma pasar besar megah tapi tidak ada yang berjualan disana. Seperti layaknya pasar mati. Ketertarikan masyarakat akan pasar tradisional adalah keanekaragaman dan keramaian. Ketika penjual di pasar tidak menyediakan kebutuhan masyarakat yang beragam dan keramaian tidak tampak. Maka banyak orang akan jenuh untuk berbelanja di sebuah pasar.
            Itulah sekilas pengamatan yang saya lakukan pada hari kamis, 26 agustus 2014 di pasar pucang sawit Surakarta. Semoga dapat menjadikan perenungan untuk saya sendiri mengenai pemahaman keramaian pasar itu penting.

Sumber :George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi dari Teori Sosiologi Klasik sampai perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern















Dokumentasi
Gambar Pasar
 
Gambar kios yang tampak ramaihanya 2 kios
Kios kosong


SOSIOLOGI EKONOMI
Apresiation Reflection Creation
Pasar  Tradisional Pucang Sawit Surakarta


Logo_UNS
Oleh :
     Widia Lestari
D0313080

JURUSAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015
Apresiation Reflection Creation
Pasar  Tradisional Pucang Sawit Surakarta

a.      Pengamatan Pasar Pucang Sawit

Pasar  yang terletak di kelurahan pucangsawit kecamatan jebres Surakarta ini  diresmikan oleh walikota Solo Jokowi pada tanggal 25 februari 2011. Pasar yang terletak dipusat kecamatan Jebres ini sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat Solo. Pasar ini sangat luas, besar dan masih tampak bangunan baru dari luar. Dengan kios yang sangat banyak dan terdiri dari lantai satu sampai lantai dua sangat terlihat  megah ketika orang melihat dari luar. Di depan pasar juga terlihat banyak yang berjualan makanan dipinggir jalan raya. Pemandangan luar dan menuju pasar inipun terlihat ramai dengan orang berjualan tanaman dan lapak dipingir jalan depan lokasi pasar berdiri.
Mulai memasuki dalam pasar saya terkejut ketika memasuki dalam pasar.    Karena bangunan yang begitu besar tampak dari luar namun hanya ada sekitar 15 kios saja yang membuka lapak dagangannya.Definisi pasar yang ada dalam benak saya adalah tempat yang dipenuhi dengan para penjual yang banyak dan di penuhi dengan para pembeli yang berdesak-desakan. Namun berbeda tampaknya dengan keadaan di pasar pucang sawit.
Tawar menawar memang terjadi disana namun hanya segelintir saja pembeli yang keluar masuk pasar tersebut. Alat transaksi yang mereka lakukan sama seperti pasar-pasar pada umumnya lakukan dengan uang terlihat ketika saya mengamati salah satu pembeli yang membeli sembako disalah satu kios pasar tersebut.
Mengamati kios demi kios, hanya dilantai satu transaksi jual beli dilakukan dan lantai dua dibiarkan kosong kumuh dipenuhi kotoran-kotoran hewan tanpa penghuni. Meskipun sudah disiapkan banyak lapak di lantai dua tidak ada satupun yang berjualan disana hanya para petugas dinas pasar yang berada disana. Dari 15 kios terdiri dari para pedagang yang menjual pakan peralaan burung, makanan kering(snack), sembako, soto dan berbagai minuman. Kumpulan dari orang yang ada dipasar hanyalah para pedagang yang sedang duduk menunggu barang dagangannya laku dan beberapa petugas dinas  pasar yang sedang santai di lantai dua. Didalam terlihat seolah-olah bukan pasar karena dari puluhan kios yang tersedia hanya 10% saja yang digunakan. Banyak dari mereka sudah tampak membereskan barang dagangan dan akan pulang pada pukul 10.30. Menurut saya mungkin transaksi yang mereka lakukan banyak terjadi pada pagi hari. Sangat miris tampaknya pasar yang sangat mewah dan besar ini hanya dibiarkan begitu saja.
            B. Merefleksikan Keadaan Pasar Tradisional Pucang Sawit
Melihat keadaan pasar yang sudah saya jelaskan diatas tampak bahwa definisi pasar yang saya fikirkan di Pucang sawit berbeda keadaanya dengan pasar-pasar lain yang pernah saya kunjungi dikota Surakarta. Namun tidak berbeda dari sisi pola tawar menawar yang kerap para penjual dan pembeli lakukan ketika belanja di Pasar Tradisional. Dari sisi alat tukarpun juga sudah mengunakan uang tidak seperti masa lampau yang barter dengan menukarkan barang dengan barang.
Terkait dengan masalah pertukaran yang dilakukan oleh para penjual dan pembeli dapat dikaitkan dengan Teori Pertukaran Sosial Peter Blau yang saling menukar cost dan reward (biaya dan ganjaran). Hal itu terjadi pula dalam kehidupan sehari-hari yang tumbuh di masyarakat pasar. Karena segala yang dilakukan oleh penjual dan pembeli sering kali membentuk perilaku sosial yang selalu berorientasi pada tujuan. Berikut merupakan kegiatan yang berorientasi dalam pasar:
Tawar menawar, pengamatan yang saya lakukan ketika penjual dan pembeli sedang melakukan transaksi “mereka saling beradu pendapat mempertahankan harga si pembeli berfikir rasional menginginkan harga murah dan dengan memperoleh barang yang berkualitas , dan si penjual mempertahankan harga yang dia jual”.(tampak ketika setiap transaksi yang mereka lakukan). Namun didalam tawar menawar banyak terjadi kegiatan atau kebiasaan yang kerap sekali melekat pada penjual dan pembeli. Secara tidak lagsung mereka menjalin ikatan sosial. Sehingga menghasilkan keuntungan bagi keduanya. Si penjual akan memperoleh keuntungan pelanggan yang banyak dan si pembeli akan mendapatkan keuntungan berupa potongan harga karena sudah saling mengenal. Dalam hal ini teori pertukaran sesuai dengan apa yang terjadi dalam transaksi yang ada di pasar pucangsawit bahwa “manusia dalam berinteraksi akan selalu berorientasi pada motif dan tujuan.
Tingkat Keramaian Pembeli, mungkin ini berbeda pendapat dengan pengamatan di pasar lain. Saya menyadari bahwa tingkat keramaian juga akan mempengaruhi image pasar. Ketika pasar ramai maka akan semakin banyak pengunjung yang datang untuk melakukan jual beli. Dan ketika pasar sepi kepercayaan seseorang untuk berbelanja di suatu pasar tersebut akan berkurang. Terlihat dalam keadaan pasar pucangsawit semakin sedikit para pnjual maka semakin tampak pembeli yang amat sedikit berbeda ketika berada dipasar Gede misalnya disana banyak penjual dan banyak pula pembeli yang memenuhi pasar hampir ditiap kios di kerumuni oleh para pembeli.
            Saling Mendukung Menjual Barang, kegiatan ini tampak di pasar pucang sawit ketika ada pembeli ingin membeli gula jawa di kios (x) namun tidak ada dan si penjual langsung meminjamkan di kios sebelah. Ini terlihat bahwa kekompakan juga mereka jalin meskipun dipasar mereka juga ada unsure persaingan antara penjual satu dengan yang lain.

C. Apresiasi Keadaan Pasar Tradisional Pucang Sawit
            Setelah melakukan pegamatan di pasar pucangsawit dengan melihat keadaan pasar  sepi tidak menutup kemungkinan untuk  mengelola pasar menjadi ramai kembali. Karena sebenarnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh penjual dan pembeli di pasar ini tidak jauh berbeda dengan pasar lain. Hanya saja kemakmuran penjual di pasar pucang sawit lebih rendah dibanding pasar lain. Di pucang sawit mungkin mereka hanya mendapatkan sedikit omset namun dipasar-pasar lain yang ramai mereka bisa mendapatkan omset yang besar.
            Perlu adanya promosi dan perombakan sistem untuk pasar pucangsawit agar menjadi pasar yang produktif. Sebenarnya pemerintah kota Surakarta berperan besar dalam memajukan pasar ini misalnya saja dengan melakukan lelang kios. Jadi banyak orang yang berbondong-bondong untuk melelang. Itu semua upaya yang dapat menarik penjual setidaknya jika banyak penjual dan terdiri dari variassi pedagang maka lama kelamaan pembeli akan datang seiring berjalannya waktu. Selain itu penjual juga bisa memasang spanduk-spanduk menarik tentang barang yang mereka jual agar para masyarakat yang melewati pasar tersebut bisa tertarik untuk membeli di pasar. Pemerintah harus berjuang keras untuk ini karena percuma pasar besar megah tapi tidak ada yang berjualan disana. Seperti layaknya pasar mati. Ketertarikan masyarakat akan pasar tradisional adalah keanekaragaman dan keramaian. Ketika penjual di pasar tidak menyediakan kebutuhan masyarakat yang beragam dan keramaian tidak tampak. Maka banyak orang akan jenuh untuk berbelanja di sebuah pasar.
            Itulah sekilas pengamatan yang saya lakukan pada hari kamis, 26 agustus 2014 di pasar pucang sawit Surakarta. Semoga dapat menjadikan perenungan untuk saya sendiri mengenai pemahaman keramaian pasar itu penting.

Sumber :George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi dari Teori Sosiologi Klasik sampai perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern















Dokumentasi
Gambar Pasar
 
Gambar kios yang tampak ramaihanya 2 kios
Kios kosong

1 comment:

  1. Borgata Hotel Casino & Spa - MapYRO
    Borgata Hotel 태백 출장샵 Casino & Spa. 1xbet korean 813 W 오산 출장샵 Flamingo 군포 출장안마 Way. Atlantic City, NJ 08401. Directions. Borgata Hotel Casino 의왕 출장샵 & Spa - 08401 United States of America

    ReplyDelete