Sunday, March 1, 2015

TEORI SOSIOLOGI KLASIK (COMTE DAN PITIRIM)



                   Konteks Sejarah Lahirnya Prespektif Sosiologi
          Sebagai suatu disiplin akademis yang mandiri, Sosiologi berusia kurang dari 200 tahun. Auguste Comte memberikan istilah “ Sosiologi”, dan  dia sering dipandang sebagai bapak disiplin ilmu ini . Perhatian intelektual terhadap masalah-masalah dan isu-isu yang berhubungan dengan sosiologi sudah lama berkembang sebelum sosiologi sebagai suatu displin ilmu . Para ahli filsafat Pencerahan (Enlightenment) pada abad delapan belas sudah menekankan peranan akal budi dan penemuan hukum-hukum alam ditandai ditandai oleh suatu dobrakan utama terhadap pemikiran abad pertengahan yang bergaya skolastik atau dogmatis, dimana perilaku manusia dan organisasi masyarakat itu sudah dijelaskan dalam hubungannya dengan kepercayaan-kepercayaan agama
            Tetapi walaupun pemikiran Eropa diabad pertengahan didominasi oleh dogma gereja daripada oleh gaya penelitian ilmiah yang terbuka dan objektif, ada seorang tokoh yang kurang dikenal dan yang muncul didunia Arab pada abad empat belas, yang memberikan gambaran patut dicatat mengenai munculnya sosiologi sebagai suatu disiplin ilmiah. Sekitar 400 tahun sebelum Comte mengembangkan prespektif Sosiologinya di Prancis, Ibnu Khaldun sudah merumuskan suatu model tentang suku bangsa nomaden yang keras dan masyarakat-masyarakat halus yang bertipe menetap dalam suatu hubungan yang kontras. Usaha Khaldun untuk menjelaskan perbedaan yang kontras ini. Penghalusan budaya yang terdapat dalam peradaban-peradaban yang sudah berkembang jauh merupakan produk masyarakat-masyarakat yang sudah menetap, tetapi mekarnya peradaban dibarengi oleh suatu kerinduan yang semakin bertambah akan kemewahan dan kenikmatan , oleh suatu sistem otoritas politik yang lebih terpusat dan oleh kurangnya solidaritas secara bertahap sebagai akibatnya. Jadi peradaban tidak ditakdirkan untuk berttahan lama dan bertumbuh tanpa batas, tetapi untuk menjadi lebih mudah ditaklukan oleh orang-orang nomaden yang kuat, dan yang keberanianya diperkuat oleh solidaritas yang tinggi.
            Model khaldun mengenai tipe-tipe sosial dan perubahan sosial diwarnai oleh warisan khusus dari pengalaman dunia padang gurun di Arab. Tujuannya tidak hanya memberikan deskripsi historis mengenai masyarakat- masyarakat Arab, tetapi untuk menarik prinsip-prinsip umum atau hukum-hukum yang menarik dinamika –dinmika masyarakat dan proses-proses perubahan sosial secara keseluruhan. Walaupun demikian karya Khaldun sudah diabaikan oleh para ahli teori sosial di Eropa dan Amerika.
            Sejarh timbulnya pemikiran sosial Barat dapat ditelusuri ke Yunani kuno, seperti Plato dan Aristoteles. Banyak ahli dari ilmu tradisional dan dalam bidang-bidang oengetahuan lainya mengakui perkembangan Yunani terhadap perkembangan intelektual. Pemikiran spekulatif mereka mengenai kodrat manusia serta organisasi negara sangat erat jalinannya dengan keprihatinan mereka untuk meningkatkan hidup lebih baik . Perincian dari sumbangan-sumbangan ini secara substantive sering diabaikan dan dilupakan, namun penting diketahui bahwa usaha untuk memahami dan menjelaskan perilaku manusia dan masyarakat tidak mulai dengan muncul dunia barat yang modern ini.[1]
Perubahan Sosial yang Pesat dan Munculnya Masyarakat Modern
Semua bidang intelektual dibentuk karena sosialnya. Hal ini terutama berlaku untuk sosiologi, yang tak hanya berasal dari kondisi sosialnya, tetapi juga menjadikan lingkungan sosialnya sebagai basis masalah pokoknya.beberapa pemusatan terhadap kondisi sosial terpenting di abad 19 dan awal abad 20 yang sangat signifikan dalam perkembangan sosiologi modern.
Revolusi politik, industri dan kemunculan kaum kapitalis
Revolusi ini dihantarkan oleh revolusi perancis 1789 dan revolusi yang belangsung sepnjang abad 19 merupakan faktor yang paling besar perannya dalam perkembangan sosiologi. Akibat revolusi ini terjadi perubahan yang dahsyat pada masyarakat terutama masalah dampak negatifnya yang mengundang keperihatinanan dari para ilmuan, olehkarena itu para pemikir mencoba untuk menemukan tatanan baru dalam masyarakt yang telah berubah oleh revolusi politik. Perhatian ini menjadi salah satu perhatian utama teoritis sosiologi klasik terutama Comte dan Durkhem.
Kemudian revolusi politik dan revolusi industri melanda eropa pada abad 19 dan 20 merupakan factor yang meunculkan teori sosiologi. Dalam revolusi ini banyak merubah pola masyarakat dari corak pertanian menjadi industri karena mereka mendapatkan tawaran dari pihak industri. Birokrasi ekonomi muncul dalam skala besar yang memberikan pelayanan yang dibutuhkan oleh indusri dan sistem ekonomi kapitalis. Akibat dari sistem kapitalis ini adanya pihak-pihak lain yang diuntungkan sehingga menyebabkan terjadinya benrok antara kaum industri dan kaum kapitalis dan reaksi penentang ini di ikutu dengan ladakan gaerakan buruh dan berbagai radikal lain yang bertujuan untuk menghancurkan sistem kapitalis.
Sosialisme
Sosialisme adalah sebuah istilah yang bertujuan unutk menghancurkan serta menanggulangi ekses industi dan kapitalis terutama Marx. Disamping itu juga Weber dan Durkhem menentang sosialisme seperti kata Marx, karena menurut mereka daripada melakukan reformasi sosial dalam system kapitalisme lebih melakukan revolusi sosial.
Feminisme
Dimana perempuan disubordinasikan hamper dimana saja mereka mengakui dan memprotes situasi itu dalam berbagai bentuk, mereka menuntut mobilisasi masif untuk hak pilih perempuan dan reformasi undang-undang dan kewarganegaraan dan industrialdi awal abad 20 di amerika Srikat. Hal ini sangat mempengaruhi perkembangan sosiologi khususnya pada sejumlah karya perempuan, dimna karya-karya mereka sering kali terdesak kepinggiran dan disubordinasikan, atau di remehkan oleh lelaki yang menyusun sosiologi sebagai basis kekuatan professional.
Urbanisasi
Akibat revolusi industri banyak sekali orang di pedesaan bepindah kelingkungan urban hal ini dikarenakan adanya lapangan pekerjaan yang diciptakan industri di kawasan urban. Akibat dari migrasi ini menimbulkan berbagai persoalan seperti kepadatan yang berlebihan, kebusingan, kepadatan lalu lintas dll, hal ini menarik perhatian sosiologi awal terutama Weber dan george Sammel.
Perubahan keagamaan
Urbaniskanasi membawa pengaruh besar terhadap religius karena mereka ingin meningkatkan taraf hidup manusia, mereka ingin orang seperti comte sosiologi ditransformasikan kedalam agama. Menurut yang lainnya terori sosiologi mereka mengandung nilai kegamaan yang tak mungkin keliru.
Pertumbuhan ilmu pengetahuan
Ketika sosiologi dibangun, minat terhadap ilmu pengetahuan (science) memberikan prestasi yang cukup besar. Diantaranya yang sukses adalah bidang fisika, biologi, dan kimia sehingga mendapat terhormat dalam masyarakat. Para sosiologi awal terutama Comte dan Durkhem semula telah berkecimpung dalam sains itu dan banyak menginginkan agar sosiologi dapat meniru kesuksesan, tetapi hal menjadi bahan perdebatan karena sains berpendapat bahwa cirri-ciri kehidupan sosial yang sangat berbeda dengan cirri-ciri objek studi sains yang akan menimbulkan kesukaran apabila mencontoh studi sains secara utuh.
Abad pencerahan
Pencerahan adalah sebuah periode perkembangan intelektual dan pembahasan pemikiran filsafat yang luar biasa. Sejumlah gagasan dan keyakinan lama kebanyakan berkaitan dengan kehidupan sosial dibuang dan diganti selama periode pencerahan. Pemikir yang paling terkemuka adalah Charle Montesqueu (1689-1755) dan Jean Jacques Rousseu. Pemikir yang berhubugan dengan pencerahan terutama dipengaruhi dua arus, yakni sains dan filsafat. Msa era pencerahan lebih menekankan pada reaksi konservatifis dan romantis terhadap pertumbuhan teori sosiologi.
Reaksi konservatif terhadap pencerahan
Sosiologi perancis bersifat rasional, empiris, ilmiah, dan berorientasi perubahan, tetap tidak sebelum dibentuk oleh seperangkat gagasan yang dikembankan sebagai reaksi dari pencerahan. Ideology menentang premis moderenisasi dapat menemukan sentiment antimodernisasi dalam kritik pencerahan. Bentuk oposisi paling ekstrim terhadap gagasan pencerahan berasal dari pilosofi kontra revosioner katolik perancis seperti tampak pad aide-ide Louis de Bonald (1754-1840) dan Joseph de Maistre (1753-1821). Zeltin telah menguraikan 10 proposisi yang muncul dari reaksi konservatif dan menyediakan basis bagi perkembangan teori sosiologi perancis klasik.
1. Sebagian pemikiran pencerahan cendrung menekankan pada individu, sedangkan reksi konservatif mengarahkan perhatian pada sosiologi umum dan menekankan pada masyarakat dan fenomena.
2. Masyarakat adalah unit analisi terpenting masyarakat dipandang lebih penting ketimbang individu.
3. Individu bahkan tidak dilihat sebagai unsur yang paling mendalammasyarakat, karena masyarakat terdiri dari komponen seperti pern, posisi, hubungan dll.
4. Bagian-bagian masyarakat dianggap saling berhubungan dan saling ketergantungan.
5. Perubahan dipandang bukan hanya sebagai ancaman terhadap masyarakat dan terhadap komponennya, tetapi juga terhadap invidu dan masyarakat.
6. Kecendrungan umum adalah melihat berbagai komponen masyarakat berskala luas sebagai komponen yang berguna, baik bagi masyarakat maupuan bagi individu yang menjadi anggotannya.
7. Unit-unit kecil seperti kelompok keluarga, tetangga, keompok kagamaan dan mata pencaharian dipandang penting bagi individu yang menjadi anggotannya.
8. Ada kecendrungan memandang berbagai perubahan sosial modern seperti industrialisasi, urbanisasi dan birokrasi dapat menimbulkan kekacauan tatanan.
9. Sementara kebanyakan perubahan menakutkan itu mengarah pada kehidupan masyarakat yang lebih rasional.
10. Pemikir konservatif mendukung keberadaan system hirarkis dalam masyarakat.

Perkembangan sosiologi perancis
Dimulai dari perancis dimana peran yang dimainkan pada era pencerahan yang menekankan pada reksi konervatif dan romantis terhadap pertumbuhan teori sosiologi. Dari jalinan teori-teori itulah sosiologi itu berkembang. Dalam konteks ini dibahas tokoh-tokoh utama di tahu-tahun awal perkembangan sosiologi perancis, sperti Hendri Saint Simon yang berperan penting terhadap pengembangan teori sosiologi konservatif, Aguste Comte adalah orang pertama yang menggunakan istilah sosiologi, pengaruhnya sangat besar terhadap teoritis sosiologi selanjutnya, dan Emil Drukhem yang dipandang sebagai pewris tradisi pencerahan karena penekanannya pada sains dan revormisme sosial.
Claude Henri Saint-Simon, ia memiliki sisi penting terhadap pengembangan teori sosiologi konservatif (seperti yang dilakukan Comte) maupun terhadap teori Marxian radikal. Di sisi teori konservatif ia ingin mempertahankan kehidupan masyarakat seperti apa adanya, namun ia tak ingin kembali ke kehidupan seperti di abad pertengahan sebagaimana yang di dambakan de Bonald da de Maistre.ia mengatakan studi fenomena sosial sebaiknya menggunakan teknik ilmiah yang sama seperti yang di gunakan dalam srudi sains. Emile drukheim, dipandang sebagai pewaris tradisi konservatif khususnya seperti tercermin dalam karya Comte. Bedanya, sementara Comte tetap berada diluar dunia akademi namun Durkheim mengembangkan basis akademi yang kokoh untuk kemajuan akhirnya, ia juga melegitimasi sosiologi di perancis dan karyanya kahirnya menjadi kekuatan dominant dalam perkembangan sosiologi pada umumnya, dan perkembangan sosiologi pada khususnya.
Perkembanagan sosiologi jerman
Peran Karl Marx dalam perkembangan sosiologi di Negara jerman. Dikatakan bahwa perkembangan teori Marxian teori sosiologi dan cara teori Marxian dapat mempengaruhi sosiologi secara positif maupun negatif. Pembahasan dimulai dari dasar teori Marxian dalam hegelianisme, materialisme dan politik. Ad du konsep yang mencerminkan esiensi filsafat Hegel yaitu dialetika dan idealisme. Dialetika adalah cara berpikir dan citra tentang dunia. Dialetika menekankan pada hubungan dinamikan konflik dan kontradiksi serta cara berpikir dinamis. Sedangkan idealisme lebih menekankan pentingnya pikiran dan produk mental ketimbang kehidupan material. Feuerbach merupakan jembatan penting yang menghubungkan antara Hegel dan Marx. Feuebach banyak mngkritik Hegel terhadap penekanan berlebihan pada kesadaran semangat masyarakat. Feuebach menerima filsafat materialis ia menegaskan perlunya meninggalkan idealisme subjektif Hegel untuk memusatkan perhatian bukan pada gagasan tapi pada relitas kehidupan manusia.
Teori Marx, secara garis besar dapat dikatakan bahwa Marrx menawarkan sebuah teori tenteng masyarakat kapitalis berdasarkan citranya mengenai sifat mendasar manusia. Artinya untuk bertahan hidup manusia perlu bekerja didalam dan dengan alam. Teori Weber, mengemukakan teori kapitalisme tetepi pada dasarnya karya Weber adalah teori tenteng proses rasionalisme. Hal ini dikarenakan ia tertarik pada masakah umum seperti mengapa institusi di dunia barat berkembang semangkin rasional sedangkan rintangan kuat tampaknya mencgah perkembangan serupa dibelahan bumi lain. Teori Simmel, ia bersama-sama mendirikan masyarakat sosiologi jerman. Ia adlah teoritis sosiologi yang luar biasa salah satu keistimewaanya adalah dia cepat berpengaruh besar terhadap perkembangan teori sosiologi amerika, Karen salah satu pusat kajiannya yaitu sosiologi amerika unversitas Chicago dan teori utamanya yakni interaksionisme simbolik.
Asal usul sosiologi inggris
Sumber utaman sosiolgi inggris adalah ekonomi politik, ameliorisme, dan evolusi sosial. Dalam sistem ekonomi politik menyangkut masyarakat industri dan kapitalis yang sebagian berasal dari pemikiran adam Smith. Smith mengatakan adanya kekuatan yang tak terlihat mnentukan pasar barang dan tenaga kerja. Pasar dilihat sebagai realitas independe yang berdiri diatas individu dan dapat mengendalikan individu. Evolusi sosial, pengertian yang lebih mendalam tentang struktur sosial tersembunyi di bawah permukaan sosiologi inggris dan baru meledak ke permukaan pada paruh akhir abad 19 dengan berkerembangnya perhatian terhadap evolusi sosial.
Spencer dan Comte memberikan pengaruh terhadap perkembangan teori sosiologi. Namun ada perbedaan penting diantara mereka , misalnya sulitnya menggolongkan Spencer sebagai pemikir kondservatif. Sebenya ia lebih tepat dipandang beraliran politik liberal dan ia tetap melihat unsure-unsur liberlisme sepanjang hidupnya. Salah satu pandngannya adalah konservatifnya yaitu penerimaanya atas doktrin laissez-fire.
Semua ini memperlihatkan kepada kita rumitnya perubahan-perubahan sosial yang terjadi pada periode itu. Tidak hanya perubahan-perubahan dalam institusi-institusi yang berbeda yang bersifatsaling tergantung, tetapi juga perubahan-perubahan itu memberikan suatu kekuatan dinamis dimana setiao bagian dari perubahan itu merangsang perubahan selanjutnya.[2]














Auguste Comte
A.                BIOGRAFI COMTE
                        Auguste comte (1798-1857) lahir di Montpellier Perancis bagian Selatan, putra dari pejabat pemerintah kecil. Dididik di paris, pendidikannya yang terkonsentrasi dalam matematika dan ilmu pengetahuan alam. Sebelum menyelesaikan sekolahnya, ia dipecat untuk berpartisipasi dalam pemberontakan mahasiswa terhadap administrasi sekolah. Dia daripada menjadi Sekretaris Henri Saint Simon, pemimpin politik yang berpengaruh dan advokat versi pra-Marxis sosialisme-sistem di mana sarana produksi (e.g.,industry) dimiliki oleh orang-orang. Comte sangat dipengaruhi oleh Saint Simon, tetapi hubungan mereka berakhir ketika comte dituduh melakukan plagiarisme, ia menyangkal tuduhan. Dia memegang pekerjaan lain di Paris selama kira-kira 12 tahun, tapi ditolak lagi. Dia telah membuat musuh-musuh yang terlalu banyak dan terlalu sedikit teman.
                        Comte biasanya dikreditkan dengan menjadi "Bapak sosiologi" karena ia diciptakan istilah sosiologi. Ia pertama kali disebut ilmu sosial yang baru ini "sosial fisika" karena ia belived bahwa masyarakat harus mempelajari cara ilmiah yang sama sebagai dunia ilmu-ilmu alam, Comte berkata, Sosiologi akan menggunakan metode empiris untuk menemukan dasar hukum masyarakat, yang akan menguntungkan manusia dengan memainkan peranan utama dalam perbaikan kondisi manusia.
                        Comte terkenal karena hukum progess manusia, yang menyatakan bahwa setiap dari pengetahuan kita, semua manusia pengembangan intelektualnya, melewati berturut-turut tiga condisions teoritis yang berbeda: (1) teologis, atau fiktif (2) metafisik, atau abstrak (3) dan ilmiah, atau positif. Selain itu, setiap manusia umur secara mental disertai dengan jenis tertentu dari organisasi sosial dan dominasi politik. Pada tahap pertama, teologis, semuanya dijelaskan dan understoond melalui supranatural. Keluarga adalah kesatuan sosial prototipikal (model atau standar untuk yang lain yang sesuai), dan dominasi politik dipegang oleh para imam dan personil militer. Dalam tahap kedua, metafisik, abstrak pasukan diasumsikan sumber penjelasan dan pemahaman. Negara menggantikan keluarga sebagai unit sosial propotypical dan, pertengahan dan renaissance, dominasi politik dipegang oleh para rohaniwan dan pengacara. Pada tahap ketiga dan tertinggi, ilmiah, hukum-hukum alam semesta yang belajar melalui observasi, experimentasion dan perbandingan. Seluruh umat manusia menggantikan negara sebagai unit sosial operasi, dan dominasi politik diadakan oleh administrator industri dan ilmiah panduan moral. Itu comte's pernyataan bahwa tahap ilmiah dari pengetahuan manusia dan pengembangan intelektual hanya mulai pada zamannya. Menurut comte, Sosiologi, seperti ilmu-ilmu alam, selanjutnya dapat menggambar pada metode Sains, selanjutnya dapat menggambar pada metode sains untuk menjelaskan dan memahami hukum progess dan tatanan sosial.
            Konsep yang berkaitan dengan berasal oleh comte adalah pandangan bahwa masyarakat adalah jenis "organisme". Seperti tumbuhan dan hewan, masyarakat memiliki struktur yang terdiri dari banyak bagian yang saling terkait, dan itu berevolusi dari sederhana ke bentuk lebih kompleks. Menggunakan model ini organik sebagai dasar, dia berfikir bahwa sosiologi harus fokus pada sosial Statika struktur organisme, dan dinamika sosial, proses organisme dan bentuk perubahan. Comte belived bahwa sosiologi adalah cara yang lebih adil dan rasional tatanan sosial dapat dicapai.[3]

B.                 PERTAMBAHAN PENDUDUK  MENURUT COMTE
            Didalam buku yang berjudul The positive philoshophy of Auguste Comte, antara lain, dikemukakan mengenai ajaran Comte yang secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan perubahan sosial. Menurut Comte, maka suatu gejala yang mempengaruhi perkembangan adalah pertambahan penduduk secara alamiah. Pertambahan penduduk tersebut menurut Comte, merupakan suatu faktor dengan pengaruh yang lebih besar dari faktor-faktor lainnya. Pertambahan penduduk tersebut selalu diangap sebagai gejala yang paling jelas dari meningkatnya perbaikan dari kondisi manusia, oleh karena itu, adalah paling tepat untuk memperhitungkan keseluruhan umat manusia, atau paling tidak,masyarakat-masyarakat yang mempunyai kepentingan yang sama. Namun demikian, bukan hal itu yang menjadi pusat perhatian Comte.
            Comte menjelaskan lebih lanjut, bahwa pusat perhatianya bukanlah pada pertambahan jumlah manusia, akan tetapi pada konsentrasinya disuatu tempat tertentu, yang kemudian dapat diterapkan pada pemusatan-pemusatan dimanapun dan pada masa apa pun, dimana perkembangan manusia dimulai. Dengan menciptakan keinginan-keinginan baru dan kesulitan-kesulitan baru, konsentrasi secara gradual mengembangkan cara-cara baru,tidak hanya mengenai perkembagan, akan tetapi juga mengenai ketertiban. Hal itu dapat dilakukan, dengan cara menetralisasikam ketidaksamaan fisik dan meningkatkan kedudukan kekuatan-kekuatan intelektual serta moral ( yang semula tertekan ). Kalau diadakan telaah lebih mendalam mengenai efek dari konsentrasi yang lebih lambat atau lebih cepat maka timbul dugaan bahwa gerakan sosial diakselerasikan oleh pertentangan antara aspek-aspek konservatif dengan naluri-naluri pembaharuan tersebut tmpaknya tambah diperkuat. Dalam hal ini, maka pengaruh sosiologis dari pertambahan penduduk adalah analog dengan jangka kehidupan manusia.
            Comte percaya bahwa perkembangan yang lebih sempurna dari hakikat manusia dan pengetahuan yang lebih berkembang mengenai hokum evolusi manusia,akan dapat mengembangkan sarana-sarana untuk mengatasi bahaya tersebut. Comte berpendirian, bahwa belum ada konsepsi yang jelas mengenai sarana untuk mengatasi bahaya tersebut, hal itu sebenarnya bukan menjadi masalah (pada waktu itu).Oleh karena itu , maka telah terhadap sistem pendapat manusia yang fundamental yang menyangkut keseluruhan gejala yaitu sejarah filsafat , apakah cirinya teologis,  matafisik maupun positif, harus menjadi patokan bagi analisa sejarah intelektual,yang dapat dipergunakan untuk maksud itu.
            Bahaya dari berkurangnya perhatian terhadap hubungan timbale balik antara pelbagai bagian atau unsur dari perkembangan manusia, dapatlah dicegah dengan cara membandingkan bagian-bagian atau unsur tersebut, dengan tujuan untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaannya . Hal-hal tersebut dapatlah dilakukan dengan mempergunakan metode analisa sejarah.Dengan demikian telah disajikan arah umum dari evolusi manusia, kecepatan perkembangannya, dna ketertiban yang diperlukannya. Selanjutnya juga perlu ditelaah perihal hukum-hukum alam yang didasari perkembangan jiwa dan pikiran manusia. Prinsip ilmiah dan teori tersebut , menurut Comte terdiri dari hokum atau falsafah perkembangan melalui tiga tahap yaitu tahap teologis primitif , tahap metafisik transisional dan tahap positif yang terakhir. Tahap-tahap tersebut dilalui oleh perkembangan jiwa dan pikiran didalam setiap bentuk spekulasi.
            Comte telah memperkanalkan hukum tiga tahap yang merupakan pemikiran modern dalam evolusi sosial pada waktu itu. Pemikiran itu agaknya dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Turgot dan Condorcet. Comte berpendirian bahwa evolusi kemanusiaan ditentukan oleh evolusi cita-cita : akan tetapi, dia tidak menyampingkan faktor-faktor lain, seperti misalnya, pertambahan penduduk.([4])

C.    HUKUM TIGA TAHAP COMTE

            Meskipun perspektif teoritis Comte mencakup statika dan dinamika sosial, ( atau ahli sosiologi sekarang ini menyebutkan struktur dan perubahan), perhatian umumnya dalam bagian pertama dari kariernya adalah menjelaskan dinamika kemajuan sosial. Kendati terjadi anarki yang ada. Tetapi memberikan ramalan-ramalan yang dapat dipercaya mengenai masa depan menurut pemahaman akan hukum-hukum dinamika sosial, dan pada gilirannya bergantung pada penelitian sejarah, yang akan mengungkapkan dan menggambarkan bekerjanya hukum-hukum ini. Dengan Keyakinan yang tinggi akan kepercayaan bahwa penelitian sejarah akan mengungkapkan kemajuan manusia yang mantap, Comte menjelaskan bahwa tujuannya yang menyeluruh adalah “ untuk menjelaskan setepat mungkin gejala perkembangan yang besar dari umat manusia, dengan semua aspeknya yang penting , yakin menyampaikan mata rantai yang harus ada dari perubahan-perubahan umat manusia mulai dari kondisi yang hanya sekedar lebih tinggi daripada suatu masyarakat kera besar, seacara bertahap menuju keperadaban Eropa sekarang ini”. Kepercayaan akan kemajuan manusia yang tidak terelakan ini, sejalan dengan pemikiran evolusioner kemudian. Hal ini juga mencerminkan pengaruh ide-ide pencerahan di abad ke 18.
            Hukum tiga tahap merupakan usaha Comte untuk menjelaskankemajuan evolusioner umat manusia dari masa primitive ke peradaban Prancis abad ke-19 yang sangat maju. Hukum ini, yang mungkin paling terkenal dari gagasan-gagasan teoretis pokok Comte, tidak lagi diterima sebagai suatu penjelasan mengenai perubahan sejarah secara memadai. Juga terlalau luas dan umum sehingga tidak dapat benar-benar tunduk pada pengujian empiris secara teliti, yang menurut Comte harus ada untuk membentuk hukum-hukum sosiologi. Secara singkatnya hukum itu menyatakan bahwa masyarakat-masyarakat . Tahap- tahap ini ditentukan oleh cara pikir yang dominan :([5])
1.      Tahap Teologis, manusia percaya bahwa dibelakang gejala-gejala alam terdapat kuasa-kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gejala-gejala tersebut . Kuasa-kuasa ini dianggap sebagai makluk yang memiliki rasio dan kehendak seperti manusia , tapi orang percaya bahwa mereka berada pada tingkatan yang lebih tinggi daripada makluk-makluk insane yang biasa. Zaman teologis itu sendiri dapat dibagikan lagi atas tiga periode. Pada taraf paling primitive benda-benda sendiri dianggap berjiwa (animism), pada taraf berikutnya manusia percaya pada dewa-dewa yang masing-masing menguasai suatu lapangan tertentu: dewa laut, dewa gunung, dewa halilintar dan sebagainya (politeisme). Dan pada taraf lebih tinggi lagi manusia memandang satu Allah sebagai penguasa segala sesuatu (Monoteisme).
2.      Tahap Metafisis, kuasa-kuasa adikodrati diganti dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang abstrak, seperti misalnya “Kodrat” dan “penyebab”.Gagasan bahwa ada kebenaran tertentu yang asasi merupakan hukum alam yang jelas dengan sendirinya menurut pemikiran manusia, sangat mendasar dalam cara pikir metafisik. Metafisika dijunjung tinggi dalam zaman ini.
3.      Akhirnya dalam Tahap Positif sudah tidak diusahakan lagi untuk mencari penyebab-penyebab yang terdapat dibelakang fakta-fakta.Dalam zaman tertinggi ini manusia membatasi diri pada fakta-fakta yang disajikan kepadanya. Atas dasar observasi dan dengan menggunakan rasionya ia berusaha menetapkan relasi-relasi persamaan atau urutan yang terdapat anatara fakta-fakta. Baru dalam zaman terakhir ini dihasilkan ilmu pengetahuan dalam arti yang sebenarnya.
Seperti yang dikatakan diatas, menurut Comte hukum tiga tahap ini bukan saja bagi perkembangan pengetahuan umat manusia seluruhnya, melainkan berlaku bagi perkembangan pengetahuan umat manusia seluruhnya, melainkan berlaku juga bagi manusia perorangan. Sebagai anak setiap manusia berada pada zaman teologis, sebagai remaja ini ia masuk zaman metafisis dan sebagai orang dewasa ia mencapai zaman positif. Akhirnya, hukum tersebut belaku juga untuk perkembangan tiap-tiap ilmu. Mula-mula suatu ilmu bersifat teologis, lalu berubah menjadi metafisis dan lama-kelamaan mencapai kematangan positif.([6])
D.    AJARAN STATIKA DAN DINAMIKA SOSIAL POSITIVISME COMTE
            Dalam buku ke VI yang merupakan bagian akhir karya utamanya cours de philosophy positive , dengan panjang lebar August Comte mengemukakan ajarannya tentang fisika sosial atau yang bisa ia sebut dengan istilah “sociology”, sehingga disamping pendiri filsafat positivisme diabad ke-19, August Comte sendiri mengaku bahwa Mostesquieu(1689-1755) dan Condorcet (1743-  1744) merupakan para pendahulunya dalam merintis ilmu sosiologi, namun sebutan sebagai “Bapak sosiologi” tetap diberikan kepadanya.
            Dalam penggolongan ilmu pengetahuan telah diuraikan bahwa Auguste Comte memandang sosiologi itu sebagai ilmu pengetahuan final atau puncak yang dikembangkan manusia dan sesuai dengan kompleknya gejala-gejala yang dihadapi, maka sosiologi belum dapat mencapai tahap positif dalam perkembangannya. Ini berarti bahwa sosiologi sebagai ilmu masih belum mapan.
            Namun demikian melalui fisika sosial atau sosiologinya itu Auguste Comte mengemukakan berbagai ajaran tentang usaha untuk memperbaiki keadaan dalam masyarakat. Kesemuanya itu tidak lepas dari latar belakang yang berupa kekacauan sosial dan politik yang timbul sebagai implikasi revolusi yang dialami negaranya yaitu Perancis.

Pembagian fisika sosial ke dalam statika dan dinamika sosial
            Auguste Comte membagi fisika sosial menjadi dua bagian yaitu statika sosial dan dinamika sosial. Pembagian ini secara analogik diambil dari teorinya tentang “ Geometrical Phenomna of the Heavenly Bodies” yang dibaginya kedalam “Statical” dan “Dynamical”. Karena itulah, orang yang secara kritis mengecam dan mengira bahwa sejarah, dalam perkembangannya dapat diatur oleh hukum-hukum tertentu-yaitu Karl Popper menyatakan bahwa  pengertian statika dan dinamika sosial oleh Auguste Comte dibagi dari pembagian yang ia adakan dalam ilmu alam dengan mengira bahwa yang dimaksud dengan statis dalam sosiologi itu sama dengan apa yang disebut sistem dalam ilmu alam yang oleh para ahlinya disebut dinamis , sehingga menurut Karl Popper, pembagian itu dinyatakan sebagai pembagian atas dasar pengertian yang salah.
            Auguste Comte sendiri menyatakan bahwa justru karena pembagian itu didasarkan atas suatu analogi, maka pembagian itu bukan dimaksudkan untuk membedakan adanya dua kelompok fakta dalam masyarakat, melainkan hanya sekedar untuk membedakan adanya dua macam aspek sebuah teori ,yang dibutuhkan sebagai alat untuk membedakan adanya dua kelompok fakta dalam masyarakat, melainkan hanya sekedar untuk membedakan adanya dua kelompok fakta dalam masyarakat , melainkan hanya sekadar membedakan adanya dua macam aspek sebuah teori, yang dibutuhkan sebagai alat untuk mengadakan analisis tentang keadaan masyarakat.
1.      Statika Sosial
            Sebagai bagian fisika sosial, maka statika sosial Auguste Comte dinyatakan sebagai “law of coexistence” dan juga dimaksudkan untuk mempelajari hukum-hukum aksi dan reaksi sebagai sistem sosial. Dalam uraian selanjutnya, ternyata bahwa dalam statika sosial ini, Auguste Comte telah mengadakan analisis tentang keadaan masyarakat dari segi statikanya.
Dikatakan bahwa tiga macam unsure,yaitu : Individu, keluarga dan masyarakat merupakan syarat mutlak bagi kelangsungan suatu kehidupan bersama,yang masing-masing harus difahami terlebih dahulu ,sebelum kita melangkah untuk mengadakan analisis mengenai keadaan masyarkat itu. Tentang individu , Auguste Comte bertolak dari pandangan Aristoteles yang menyatakan bahwa manusia itu pada hakikatnya merupakan makhluk sosial, sehinga menurut Comte, Individu itu selalu memiliki kecenderungan untuk menyatu dalam ikatan suatu kelompok. Kecenderungan ini memang sesuai dengan naluri serta kebutuhan dan tuntutan batinnya. Kecenderungan manusia untuk hidup berkelompok bukan didasarkan atas pertimbangan untung-rugi , merupakan suatu kenyataan atau kebutuhan tersendiri, karena dengan hidup dengan ikatan kelompok ini jiwa manusia akan menemukan tempatnya didalam kehidupan moral dalam semangat alturisme. Mengenai unsure kedua, dinyatakan bahwa keluarga itu adalah dasar sosial yang sebenarnya. Dan pasangan suami istri merupakan dasar dari keluarga tadi . Kenyataan sejarah menunjukan bahwa dari kesatuan keluarga inilah kemudian berkembang menjadi suku , suku berkembang menjadi bangsa , sehingga seluruh ras di manusia akan dapat dipahami sebagai perkembangan kelompok keluarga yang bertingkat. Kesemuanya itu terjadi, Karena dalam kelompok keluarga hubungan seksual berlangsung, disamping hubungan orang tua dengan anak-anak,sehingga terwujudlah apa yang disebut bahwa ‘masyarakat’ merupakan tempat untuk menjalin hubungan antara individu dengan unsure-unsur lain, yang masing-masing mempunyai kepentingan yang amat luas. Kebutuhan adanya pengaturan dan organisasi timbul untuk kelangsungan masyarakat itu. Dan kehidupan masyarakat itu akan menjadi semakin kompleks, sejalan dengan perkembangan atau kemajuan yang ada, melalui pembagian kerja, tukar menukar kebutuhan dan pelayanan,hingga akhirnya berkembang menjadi masyarakat bangsa-bangsa.
Dinamika Sosial
            Dalam bagian kedua fisika sosial ini yaitu dinamika sosial diterangkan hukum-hukum yang mengatur perkembangan masyarakat. Dengan membagi Fisika Sosial menjadi Statika sosial dan Dinamika sosial ini, tergambar jalan fikiran Auguste Comte yang menekankan eratnya hubungan antara kedua bagian tersebut. Karena ketertiban tanpa disertai kemajuan atau perkembangan akan mewujudkan sesuatu yang beku, sedang kemajuan tanpa ketertiban akan melahirkan kekacauan. Didalam kemajuan itulah, kita akan melihat aktualisasi kecenderungan yang dinamis ketertiban masyarakat.
            Dengan menyatakan bahwa ketertiban dan kemajuan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, Auguste Comte ingin menunjukan bahwa ia berbeda dengan kaum klasik yang selalu mempertentangkan ketertiban dan kemajuan tadi. Kaum klasik memang selalu berusaha untuk mempertahankan ketertiban, akan tetapi dengan dilandasi oleh suatu “retrograde spirit”, sedang kemajuan sosial selalu dipandang sebagai sumber kekacauan atau anarki.
            Selanjutnya, dalam menerangkan dinamika sosial ini, secara konsisten hukum tiga tahap Auguste Comte dijadikan kerangka referensi untuk menunjukan bagaimana dan ke arah mana masyarakat itu akan berkembang.Ia gambarkan bahwa:
“There can be no doubt that the development of the sciences, of in dustry, and even on the fine arts, was historically the principal,though latents cause, in the first instance of the irretrievable decline of the theological and military system. At present, it is the ascendency of the scientific spirit which preserves us from any real restoration of the theological spirit;as again, the industrial spirit ,in its perpetual extension, constitutes our best safeguard against any serious recurrence of the military or feudal spirit.”
Dengan menjelaskan hukum-hukum perkembangan dalam rangka dinamika sosial ini, tersimpul pula pandangan Auguste Comte tentang filsafat sejarah, yang menunjukan bagaimana sejarah itu menurut Auguste Comte merupakan saat atau waktu yang dibutuhkan manusia untuk meningalkan masa-masa gelapnya menuju ke masa cerah. Masa cerah sebagai perwujudan suatu kemajuan yang dicapai umat manusia, berupa masyarakat industry, yaitu masyarakat yang ditandai oleh peranan ilmu pengetahuan dalam kehidupan masyarakat yang sangat menentukan setelah masyarakat tahap metafisik dan tahap teologi, yang masing-masing ditandai dengan peranannya kaum feodal dan kaum militer,dapat dilalui. Itulah masyarakat dalam tahap positif yang menjadi arah perkembangan yang berlangsung secara bertahap itu. Ajaran dinamika sosial yang tidak lepas dari hukum tiga tahap, menunjukan bahwa Auguste Comte melihat suatu tahap definitive akan dicapaai,yaitu tahap positif.[7]

























Pitirim A Sorokin


A.    Biografi Pitirim A Sorokin

            Pitirim Sorokin lahir di desa Turya, Rusia, pada 21 Januari 1889. Pelatihan ini terkonsentrasi di Universitas St. Petersburg, meskipun ia juga belajar di Institut psiko-Neurological di kota yang sama. Dari 1914 hingga 1916 ia mengajar di Institut dan kemudian di Universitas, dimana ia adalah seorang profesor sosiologi dari 1919-1922. Setelah bertugas sebagai Sekretaris Kerensky, Sorokin dipaksa untuk meninggalkan negara oleh pemerintah Uni Soviet. Periode singkat di Cekoslowakia, diikuti oleh beberapa perkuliahan di Amerika Serikat, di mana ia diangkat sebagai profesor sosiologi di Universitas Minnesota (1924-1930). Sorokin mendirikan departemen sosiologi di Universitas Harvard yang dijabatnya hingga pensiun pada tahun 1959. Ia terpilih menjadi Presiden American Association sosiologi (1965) dan terus menghadiri pertemuan-pertemuan profesional seluruh dunia sampai tahun 1968.
            Sorokin's daftar publikasi yang besar dan pengaruh pribadi mencakup banyak daerah. Selama periode Minnesota, ia mengatakan tertarik dalam kelas sosial, perubahan sosial, dan kehidupan masyarakat pedesaan. Kunci bekerja periode itu mobilitas sosial (1927) dan teori sosiologis kontemporer (1928). Di bekas dia dibedakan vertikal dan horisontal bentuk mobilitas dan menunjukkan pentingnya saluran institusional sebagai mekanisme mobilitas. Kedua bekerja disediakan ringkasan unik dan kritis banyak teori sosiologis, dengan penekanan khusus pada kekurangan bukan manusia dan berlebihan abstrak penjelasan.
            Meskipun Sorokin dan rekan-rekannya dijaga dan memerintahkan tubuh cukup bahan di pedesaan-perkotaan kontras (prinsip dari Rural-Urban Sosiologi, 1929; Sistematis sumber buku di pedesaan Sosiologi, 1930-1932), perubahan sosial dan konsekuensinya datang untuk menjadi fokus utama selama bertahun-tahun. Setelah menganalisis penyebab revolusi dalam Sosiologi revolusi (1925), ia mulai belajar 4 volume mengesankan yang disebut sosial dan dinamika budaya (1937-1941). Karya ini berputar di sekitar kontroversial tesis bahwa perubahan dilacak dasar praanggapan budaya yang undergird masing-masing lembaga sosial yang besar, dan bahwa praanggapan ini berubah karena setiap jenis mencemaskan hanya sebagian dari pengalaman sosial yang kompleks. Sorokin karena itu mengemukakan seri varyingly berulang siklus dalam perubahan sosial, dari ideasional nyata (religiousintuitional) untuk sensate (tujuan-materialistis) idealis (campuran jenis sebelumnya).
            Dari sudut pandang ini, Sorokin dikritik aplikasi dari sudut pandang ilmu pengetahuan alam ilmu sosial, pertama di sosiokultural kausalitas, ruang dan waktu (1943) dan dengan penuh semangat di mode dan kelemahan Modern sosiologi (1956). Dalam nada yang terkait, ia menulis seperti Yeremia sosiologis terhadap ekses budaya sensate modern — terutama dalam buku-buku tersebut sebagai krisis dari kami zaman (1941), orang dan masyarakat dalam bencana (1942), rekonstruksi kemanusiaan (1948) dan SOS: makna dari kami krisis (1951).
            Sebagai penangkal, Sorokin's terakhir 2 dekade kehidupan yang dikhususkan untuk penyebab altruisme dan cinta, dimana ia mendirikan sebuah lembaga penelitian di Harvard. Beberapa hasil yang menarik ini diterbitkan dalam altruistik cinta (1950), bentuk dan teknik altruistik dan pertumbuhan rohani (1954), dan The cara dan Power of Love (1954). Namun, Sorokin's ketenaran bersandar pada beasiswa dan dorongan dari teori sosiologis nya. Karyanya akhir, sosiologis teori hari ini (1966), adalah sebuah kritik yang rinci tentang tren dalam Sosiologi sejak 1925. Ia meninggal di Winchester, Mass, pada 10 Februari 1968.[8]

B.     Pandangan Sorokin Mengenai integrasi Sosial dan Budaya
            Sorokin memusatkan perhatiannya pada tingkat budaya,dengan menekankan pada arti, nilai, norma, dan symbol sebagai kunci untuk memahami kenyataan sosio-budaya ; namun dia juga menekankan saling ketergantungan antara pola-pola budaya, masyarakat sebagai sistem interaksi, dan kepribadian individual. Tingkat tertinggi integrasi sistem-sistem sosial yang paling mungin tercapai didasarkan pada seperangkat arti,nilai,”norma hukum”yang secara logis dan berarti konsisten satu sama lain dan mengatur interaksi antara kepribadian-kepribadian yang turut serta didalamnya. Meskipun tingkat budaya integrasi penuh  dengan arti logis ditekankan sebagai data dasar untuk integrasi sosial paling tinggi namun Sorokin tidak menyatakan bahwa kebanyakan tindakan atau interaksi berintegrasi menurut arti ini.
            Martindale mengklasifikasi pandangan Sorokin sebagai cerminan dari “ Organisisme yang dimurnikan”.Salah satu alasan Martindale melihat Sorokin sebagai seorang organisis, dapat dilihat pada tekanan Sorokin pada pemahaman sistem sosio-budaya secara keseluruhan. Prespetif organis ini menekankan pada independen dan tradisi-tradisi budayanya sebagai suatu sistem yang terintegrasi. Alasan-alasan penting lain untuk melihat Sorokin sebagai seorang ahli teori organis tanpa asumsi-asumsi positivis adalah penolakan Sorokin untuk membatasi kebenaran pada data empiris ,sebaliknya juga dia juga menunjukan suatu kerelan untuk menerima suatu konsep mengenai kebenaran dan pengetahuan yang bersifat multidimensi , dengan data empiris memberikan sebagian pengetahuan. Sejalan dengan penekanan Sorokin pada arti-arti subjektif, hal itu memisahkan dia dari kelompok positivis yang menekankan data empiris sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang sahih.
            Penekanan Sorokin pada berulangnya tema-tema dasar dimaksudkan untuk menolak gagasan bahwa perubahan sejarah dapat dilihat sebagai suatu proses linear yang meliputi gerak dalam satu arah saja; dalam hal ini Sorokin berbeda dari Comte yang percaya akan kemajuan yang mantap dalam perkembangan intelektual manusia. Sorokin lebih suka melihat suatu prespektif “Integralis” daripada mengklasifikasikan karyanya sebagai suatu teori organis.Sejauh menyangkut teori sosiologi. Pendekatan Sorokin yang bersifat “integralis” itu memungkinkan dia untuk mengkritik dengan keras gagasan bahwa semua pengetahuan kita semua berasal dari data empiris. Sebaliknya dia mengemukakan bahwa data empiris hanya memperlihatkan satu tipe kebenaran ,yakni kebenaran indrawi . Juga kebenaran akal budi dan yang ketiga yaitu kebenaran kepercayaan atau intuisi .
            Salah satu kritik Sorokin yang utama terhadap teori-teori sistem budaya total atau sistem sosial adalah bahwa teori-teori itu terlmpau menekankan tingkat integrasi dan kesatuan organisnya, dengan mengabaikan himpunan-himpunan unsur yang sesungguhnya bukan merupakan bagian dari sistem yang terpadu, kendati himpunan-himpunan itu hadir dalam ruang dan waktu. Tetapi sementara Sorokin berpegang bahwa pendekatanya tidak sama seperti pendekatan organis, penekananya itu jelas pada supersistem budaya yang berskala besar memperlihatkan juga suatu kesatuan organis , tetapi totalitas suatu kebudayaan masyarakat pada setiap tahap dalam sejarah dapat mencakup himpunan-himpunan (congeries) yang tak terintegrasikan secara berarti kedalam sistem organis yang dominan ini.
C.       Tipe-tipe Mentalitas Budaya Sorokin
Konsep ini mengacu pada pndangan dunia dasar yang mrupakan landasan sistem sosio-budaya . Pandangan dunia yang asasi dari suatu sistem sosio-budaya merupakan jawaban yang diberikan atas pertanyaan mengenai hakikat kenyataan terakhir. Ada tiga jawaban logis yang mungkin terhadap pertanyaan filosofis dasar itu. Pertama adalah bahwa kenyataan akhir itu seluruhnya terdiri dari dunia materiil yang kita alami dengan indera. Yang lainnya adalah bahwa kenyataan akhir itu terdiri dari suatu dunia atau tingkat kebenaran yang melampaui dunia materiil ini; artinya kenyataan akhir itu bersifat transenden dan tidak dapat ditangkap sepenuhnya dengan indera kita. Jawaban ketiga yang mungkin adalah antara kedua ekterm dan keadaan itu, yang secara sederhana berarti bahwa kenyataan ini mencakup dunia materiil dan transenden.
            Atas dasar itu ,Sorokin menyebutkan tiga mentalitas budaya dan beberapa tipe-tipe kecil yang merupakan dasar untuk ketiga supersistem sosio-budaya yang berbeda-beda itu.
1.      Kebudayaan Ideasional
      Tipe ini mempunyai dasar pikir (premis) bahwa kenyataan akhir itu bersifat nonmateril,  transenden, dan tidak dapat ditangkap dengan indera. Dunia ini dilihat sebagai suatu ilusi, sementara, dan tergantung pada dunia transenden, atau sebagai aspek kenyataan yang tidak sempurna dan tidak lengkap. Kenyataan akhir merupakan dunia Allah atau Nirwana, atau suatu konsepsi lainnya mengenai ada yang kekal dan tidak materiil. Tingkat ini dipecah kedalam beberapa bagian:
a.      Kebudayaan Ideasional Asketik
Mentalitas ini memperlihatkan suatu ikatan tanggungjawab untuk mengurangi sebanyak mungkin kebutuhan materiil manusia supaya mudah diserap kedalam dunia transenden.
b.      Kebudayaan Ideasional Aktif
Selain untuk mengurangi kebutuhan inderawi, tipe ini berusaha mengubah dunia transenden.
2.      Kebudayaan Inderawi (Sentate Culture)
Tipe ini didasarkan pada pemikiran pokok bahwa dunia materil yang kita alami dengan indera kita merupakan satu-satunya kenyataan yang ada. Eksistensi kenyataan adi-inderawi atau yang transenden disangkal . Mentalitas ini dapat dibagi sebagai berikut :
a.      Kebudayaan Inderawi Aktif
Kebudayaan ini mendorong usaha aktif dan giat untuk meningkatkan sebanyak mungkin pemenuhan kebutuhan materiil dengan mengubah dunia fisik ini demikian, sehingga menghasilkan sumber-sumber kepuasan dan kesenangan manusia. Mentalitas ini mendasari pertumbuhan teknologi dan kemajuan-kemajuan ilmiah serta kedokteran.
b.      Kebudayan Inderawi Pasif
Mentalitas inderawi pasif meliputi hasrat untuk mengalami kesenangan-kesenangan hidup inderawi setinggi-tingginya . Sorokin menggambarkan pendekatan ini sebagai suatu “ekploitasi parasit”,dengan motto, “makan, minukndan kawinlah, karena besok kita mati”. Mengejar kenikmatan tidak dipengaruhi oleh suatu tujuan jangka panjang apa pun.
c.       Kebudayaan Inderawi Sinis
Dalam hal tujuan-tujuan utama, mentalitas ini serupa dengan kebudayaan inderawi pasif , kecuali bahwa mengejar tujuan-tujuan jasmaniah/inderawi dibenarkan oleh rasionalisasi ideasional. Dengan kata lain, mentalitas ini memperlihatkan secara mendasar usaha yang bersifat munafik untuk membenarkan pencapaian tujuan meterialistis atau inderawi dengan menunjukan sistem nilai transenden yang pada dasarnya tidak diterimanya.[9]
3.      Kebudayaan Campuran
Kategori inimengandung penegasan terhadap dasar pikir (premis) metalitas ideasional dan inderawi. Ada dua tipe dasar yang terdapat dalam mentalitas kebudayaan campuran ini:
a.      Kebudayaan idealistis
Kebudayaan ini terdiri dari suatu campuran organis dari mentalitas ideasional dan inderawi sedemikian, sehingga keduanya dapat dilihat sebagai pengertian-pengertian yang sahih mengenai aspek-aspek tertentu dari kenyataan akhir. Dengan kata lain, dasar berpikir kedua tipe mentalitas ini secara sistematis dan logis saling berhubungan.
b.      Kebudayaan Ideasional Tiruan ( Pseudo-ideational culture)
Tipe ini khususnya didominasi oleh pendekatan inderawi, tetapi unsur-unsur ideasional hidup secara berdampingan dengan yang inderawi, sebagai suatu prespektif yang saling berlawanan. Tidak seperti tipe a diatas, kedua perspektif yang saling berlawanan ini tidak terintegrasi secara sistematis, kecuali sekedar hidup berdampingan sejajar satu sama lain.
            Tipe-tipe dasar mentalitas budaya ini terwujud dalam wacana-wacana materill yang tak terbilang jumlahnya dan dalam norma-norma sosial yang mengatur perilaku individu. Analisa menganai sistem sosial-budaya yang besar pada dasarnya meliputi penentuan tema budaya itu, yang mendasari pelbagai bidang kegiatan budaya dan melegitimasi pola-pola organisasi sosial yang dominan. Sorokin menekankan kecenderungan sistem sosio-budaya kearah integrasi yang dalam hubungannya dengan mentalitas budaya yang dominan, yang dinyatakan oleh sistem sosio-budaya itu dalam supersistem sosio-budaya yang benar.
            Secara panjang lebar Sorokin membicarakan cara tema-tema budaya dasar ini dinyatakan, diwujudkan dalam berbagai bentuk seni seperti lukisan, pahatan, music dan arksitektur. Dalam lukisan misalnya, mentalitas ideasional dinyatakan dalam pernyataan simbolis mengenai makluk-makluk transenden atau non empiris. Gaya idealistis dari lukisan berada diantara pola-pola simbolis dari mentalitas ideasional dan pola-pola visual dari mentalitas inderawi. Dengan kata lain, periode ideasional diikuti oleh periode idealistis, yang akan diikuti oleh periode inderawi, yang diikuti olh satu periode ideasional baru, dan seterusnya. Daripada meramalkan perkembangan ilmu yang terus-menerus didasarkan pada suatu pandangan dunia materialistis, Sorokin, secara profetis meramalkan suatu akhir dari periode inderawi dan pada akhirnya kelahiran kembali suatu tahap baru mentalitas ideasional.

D.    Krisis Sistem Inderawi Abad kedua Puluh
                  Prinsip batas berlaku untuk kedua mentalitas budaya yang bertentangan, tetapi penekanan utama diberikan pada batas-batas adisistem inderawi itu, Batas-batas ini dibicarakan dengan nada profetis ketika Sorokin mencoba meramalkan masa depan peradaban barat untuk waktu-waktu yang sisa dari abad kedua puluh dan selanjutnya. Sorokin menyatakan bahwa abad ke dua puluh ini menyanksikan buntunya jalan bagi adisistem inderawi yang telah berulang kali mendominasi dunia barat selama empat ratus tahun silam. Karena dia melakukan pengolakan  dan krisis di masa dia hidup, dia melihatnya sebagai gejala yang berhubungan dengan kehancuran budaya yang sangat mendalam. Kehancuran ini akan terus berlangsung sampai akhirnya digantikan oleh sistem ideasional yang baru.
                  Analisa Sorokin mengenai Krisis yang mendasar ini memperluas pemahaman kita mengenai batas-batas yang terdapat dalam sistem inderawi. Analisa ini, disatu pihak didasarkan pada hubungan yang erat antara mentalitas budaya yang dominan dan tahap perkembangannya, dan dilain pihak pada solidaritas sosial. Sebagai akibatnya, persaingan untuk memperoleh benda-benda materiil dan konflik diantara orang-orang melonjak naik. Ancaman anarki intelektual dan sosial ini merupakan satu alasan utama mengapa mentalitas inderawi tidak dapat brkembang tanpa batas tetapi harus mengakhiri perjalananya itu.[10]
      Nada profetis gambaran Sorokin mengenai kemerosotan moral yang sudah “terlampau matang” dan tahap inderawi yang sedang mati ini, jelas dilukiskan sebagai berikut:
1.       Nilai-nilai inderawi akan terus semakin relatif dan otomatis sampai sekarang hancur sama sekali tanpa pengakuan universal atau kekuatan mengikat apapun.Garis-garis batas antara nilai-nilai yangsejati dn yang palsu, yang benar dan yang sala, yang indah dan yang buruk, yang negative dan yang positif akan semakin kabur sampai akhirnya kekacauan mental, moral, estetis, dan sosial merajalela.
2.       Paksaan kasar dan kecurangan yang menjijikan akan menjadi satu-satunya hakim atas semua nilai dan semua hubungan antar individu dan antar kelompok. Kekuasaan akan menjadi kebenaran. Sebagai konsekuensinya, perang, revolusi, pemberontakan, kekacauan, kebiadaban akan merajalela. Bellum omnium contra omnes – manusia lawan manusia, kelas , bangsa, keyakinan dan ras melawan kelas, bangsa, keyakinan, dan ras- akan memperlihatkan wajahnya
3.       Dengan meningkatkan anarki moral, mental dan sosial dan menurunya kekreatifan mentalitas inderawi, produksi nilai-nilai materiil akan menurun, depresi akan menjadi lebih buruk, dan standar kehidupan materiil akan merosot.
4.       Dengan alasan yang sama, keselamatan hidup dan pemilikan akan lenyap. Begitu pula ketenangan jiwa dan kebahagiaan. Bunuh diri, sakit mental dan kejahatan akan meningkat. Kebosanan akan menghadapi semakin banyak anggota penduduk.
5.       Penduduk akan semakin terbagi dalam dua tipe : Kelompok hedonis inderawi dengan mottonya”makan,minum,dan cinta, karena besok kita akan mati” dan kelompok asketik yang pandai menahan nafsunya, yang acuh tak acuh dan bertentangan dengan nilai-nilai indeawi.[11]
Kita meneruskan ramalannya yang akhir. Meskipun Sorokin bersikap pesimistis mengenai masa depan yang sebentar lagi itu seperti yang diramalkan mengenai kehancuran adisistem yang semakin besar, dia optimis bahwa suatu abad baru akan member harapanakan muncul dalam jangka panjang. Sorokin akan mengatakan bahwa otoritas itu hampir tidak dapat dipertahankan dalam menghadapi relativisme dan pemuasan diri inderawi.





[1] Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, jilid 1, terjemahan Robert M.Z.Lawang, PT Gramedia,
    hal   14-15
[2] Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, jilid 1, terjemahan Robert M.Z.Lawang, PT Gramedia,
    hal  15-18
[3] J.Ross eshleman, Sociology an introduction, Harper Collins College Publiser 31-32

[4] Soerjono Soekamto, Teori sosiologi tentang perubahan sosial, Balai Aksara, hlm 59-61
[5] Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, jilid 1, terjemahan Robert M.Z.Lawang, PT Gramedia,
    hal   84
[6] prof.K. Bertens, Ringkasan Sejarah filsafat, Kanisius, halaman 78-79
[7][7] Koento Wibisono , Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste Comte, Gajah Mada Press, Yogyakarta, 1983, Halaman 49- 55.
[8] Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, jilid 1, terjemahan Robert M.Z.Lawang, PT Gramedia,
    hal   95
[9] Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, jilid 1, terjemahan Robert M.Z.Lawang, PT Gramedia,
    hal  99-101
[10] Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, jilid 1, terjemahan Robert M.Z.Lawang, PT Gramedia,
    hal  105-107
[11] Ibid, hlm. 699-701.

No comments:

Post a Comment