Konteks
Sejarah Lahirnya Prespektif Sosiologi
Sebagai
suatu disiplin akademis yang mandiri, Sosiologi berusia kurang dari 200 tahun.
Auguste Comte memberikan istilah “ Sosiologi”, dan dia sering dipandang sebagai bapak disiplin
ilmu ini . Perhatian intelektual terhadap masalah-masalah dan isu-isu yang
berhubungan dengan sosiologi sudah lama berkembang sebelum sosiologi sebagai
suatu displin ilmu . Para ahli filsafat Pencerahan (Enlightenment) pada abad
delapan belas sudah menekankan peranan akal budi dan penemuan hukum-hukum alam
ditandai ditandai oleh suatu dobrakan utama terhadap pemikiran abad pertengahan
yang bergaya skolastik atau dogmatis, dimana perilaku manusia dan organisasi
masyarakat itu sudah dijelaskan dalam hubungannya dengan
kepercayaan-kepercayaan agama
Tetapi walaupun pemikiran Eropa diabad
pertengahan didominasi oleh dogma gereja daripada oleh gaya penelitian ilmiah
yang terbuka dan objektif, ada seorang tokoh yang kurang dikenal dan yang
muncul didunia Arab pada abad empat belas, yang memberikan gambaran patut
dicatat mengenai munculnya sosiologi sebagai suatu disiplin ilmiah. Sekitar 400
tahun sebelum Comte mengembangkan prespektif Sosiologinya di Prancis, Ibnu
Khaldun sudah merumuskan suatu model tentang suku bangsa nomaden yang keras dan
masyarakat-masyarakat halus yang bertipe menetap dalam suatu hubungan yang
kontras. Usaha Khaldun untuk menjelaskan perbedaan yang kontras ini.
Penghalusan budaya yang terdapat dalam peradaban-peradaban yang sudah
berkembang jauh merupakan produk masyarakat-masyarakat yang sudah menetap,
tetapi mekarnya peradaban dibarengi oleh suatu kerinduan yang semakin bertambah
akan kemewahan dan kenikmatan , oleh suatu sistem otoritas politik yang lebih
terpusat dan oleh kurangnya solidaritas secara bertahap sebagai akibatnya. Jadi
peradaban tidak ditakdirkan untuk berttahan lama dan bertumbuh tanpa batas,
tetapi untuk menjadi lebih mudah ditaklukan oleh orang-orang nomaden yang kuat,
dan yang keberanianya diperkuat oleh solidaritas yang tinggi.
Model khaldun mengenai tipe-tipe
sosial dan perubahan sosial diwarnai oleh warisan khusus dari pengalaman dunia
padang gurun di Arab. Tujuannya tidak hanya memberikan deskripsi historis
mengenai masyarakat- masyarakat Arab, tetapi untuk menarik prinsip-prinsip umum
atau hukum-hukum yang menarik dinamika –dinmika masyarakat dan proses-proses
perubahan sosial secara keseluruhan. Walaupun demikian karya Khaldun sudah
diabaikan oleh para ahli teori sosial di Eropa dan Amerika.
Sejarh timbulnya pemikiran sosial
Barat dapat ditelusuri ke Yunani kuno, seperti Plato dan Aristoteles. Banyak
ahli dari ilmu tradisional dan dalam bidang-bidang oengetahuan lainya mengakui
perkembangan Yunani terhadap perkembangan intelektual. Pemikiran spekulatif
mereka mengenai kodrat manusia serta organisasi negara sangat erat jalinannya
dengan keprihatinan mereka untuk meningkatkan hidup lebih baik . Perincian dari
sumbangan-sumbangan ini secara substantive sering diabaikan dan dilupakan,
namun penting diketahui bahwa usaha untuk memahami dan menjelaskan perilaku
manusia dan masyarakat tidak mulai dengan muncul dunia barat yang modern ini.[1]
Perubahan Sosial yang Pesat dan
Munculnya Masyarakat Modern
Semua bidang intelektual dibentuk karena sosialnya. Hal ini
terutama berlaku untuk sosiologi, yang tak hanya berasal dari kondisi
sosialnya, tetapi juga menjadikan lingkungan sosialnya sebagai basis masalah
pokoknya.beberapa pemusatan terhadap kondisi sosial terpenting di abad 19 dan
awal abad 20 yang sangat signifikan dalam perkembangan sosiologi modern.
Revolusi politik, industri dan
kemunculan kaum kapitalis
Revolusi ini dihantarkan oleh revolusi perancis 1789 dan
revolusi yang belangsung sepnjang abad 19 merupakan faktor yang paling besar
perannya dalam perkembangan sosiologi. Akibat revolusi ini terjadi perubahan
yang dahsyat pada masyarakat terutama masalah dampak negatifnya yang mengundang
keperihatinanan dari para ilmuan, olehkarena itu para pemikir mencoba untuk
menemukan tatanan baru dalam masyarakt yang telah berubah oleh revolusi
politik. Perhatian ini menjadi salah satu perhatian utama teoritis sosiologi
klasik terutama Comte dan Durkhem.
Kemudian revolusi politik dan revolusi industri melanda
eropa pada abad 19 dan 20 merupakan factor yang meunculkan teori sosiologi.
Dalam revolusi ini banyak merubah pola masyarakat dari corak pertanian menjadi
industri karena mereka mendapatkan tawaran dari pihak industri. Birokrasi
ekonomi muncul dalam skala besar yang memberikan pelayanan yang dibutuhkan oleh
indusri dan sistem ekonomi kapitalis. Akibat dari sistem kapitalis ini adanya
pihak-pihak lain yang diuntungkan sehingga menyebabkan terjadinya benrok antara
kaum industri dan kaum kapitalis dan reaksi penentang ini di ikutu dengan
ladakan gaerakan buruh dan berbagai radikal lain yang bertujuan untuk
menghancurkan sistem kapitalis.
Sosialisme
Sosialisme adalah sebuah istilah yang bertujuan unutk
menghancurkan serta menanggulangi ekses industi dan kapitalis terutama Marx.
Disamping itu juga Weber dan Durkhem menentang sosialisme seperti kata Marx,
karena menurut mereka daripada melakukan reformasi sosial dalam system
kapitalisme lebih melakukan revolusi sosial.
Feminisme
Dimana perempuan disubordinasikan hamper dimana saja mereka
mengakui dan memprotes situasi itu dalam berbagai bentuk, mereka menuntut
mobilisasi masif untuk hak pilih perempuan dan reformasi undang-undang dan
kewarganegaraan dan industrialdi awal abad 20 di amerika Srikat. Hal ini sangat
mempengaruhi perkembangan sosiologi khususnya pada sejumlah karya perempuan,
dimna karya-karya mereka sering kali terdesak kepinggiran dan disubordinasikan,
atau di remehkan oleh lelaki yang menyusun sosiologi sebagai basis kekuatan
professional.
Urbanisasi
Akibat revolusi industri banyak sekali orang di pedesaan
bepindah kelingkungan urban hal ini dikarenakan adanya lapangan pekerjaan yang
diciptakan industri di kawasan urban. Akibat dari migrasi ini menimbulkan
berbagai persoalan seperti kepadatan yang berlebihan, kebusingan, kepadatan
lalu lintas dll, hal ini menarik perhatian sosiologi awal terutama Weber dan
george Sammel.
Perubahan keagamaan
Urbaniskanasi membawa pengaruh besar terhadap religius
karena mereka ingin meningkatkan taraf hidup manusia, mereka ingin orang
seperti comte sosiologi ditransformasikan kedalam agama. Menurut yang lainnya
terori sosiologi mereka mengandung nilai kegamaan yang tak mungkin keliru.
Pertumbuhan ilmu pengetahuan
Ketika sosiologi dibangun, minat terhadap ilmu pengetahuan
(science) memberikan prestasi yang cukup besar. Diantaranya yang sukses adalah
bidang fisika, biologi, dan kimia sehingga mendapat terhormat dalam masyarakat.
Para sosiologi awal terutama Comte dan Durkhem semula telah berkecimpung dalam
sains itu dan banyak menginginkan agar sosiologi dapat meniru kesuksesan,
tetapi hal menjadi bahan perdebatan karena sains berpendapat bahwa cirri-ciri
kehidupan sosial yang sangat berbeda dengan cirri-ciri objek studi sains yang
akan menimbulkan kesukaran apabila mencontoh studi sains secara utuh.
Abad pencerahan
Pencerahan adalah sebuah periode perkembangan intelektual
dan pembahasan pemikiran filsafat yang luar biasa. Sejumlah gagasan dan
keyakinan lama kebanyakan berkaitan dengan kehidupan sosial dibuang dan diganti
selama periode pencerahan. Pemikir yang paling terkemuka adalah Charle
Montesqueu (1689-1755) dan Jean Jacques Rousseu. Pemikir yang berhubugan dengan
pencerahan terutama dipengaruhi dua arus, yakni sains dan filsafat. Msa era
pencerahan lebih menekankan pada reaksi konservatifis dan romantis terhadap
pertumbuhan teori sosiologi.
Reaksi konservatif terhadap
pencerahan
Sosiologi perancis bersifat rasional, empiris, ilmiah, dan
berorientasi perubahan, tetap tidak sebelum dibentuk oleh seperangkat gagasan
yang dikembankan sebagai reaksi dari pencerahan. Ideology menentang premis
moderenisasi dapat menemukan sentiment antimodernisasi dalam kritik pencerahan.
Bentuk oposisi paling ekstrim terhadap gagasan pencerahan berasal dari pilosofi
kontra revosioner katolik perancis seperti tampak pad aide-ide Louis de Bonald
(1754-1840) dan Joseph de Maistre (1753-1821). Zeltin telah menguraikan 10
proposisi yang muncul dari reaksi konservatif dan menyediakan basis bagi
perkembangan teori sosiologi perancis klasik.
1. Sebagian pemikiran pencerahan
cendrung menekankan pada individu, sedangkan reksi konservatif mengarahkan
perhatian pada sosiologi umum dan menekankan pada masyarakat dan fenomena.
2. Masyarakat adalah unit analisi
terpenting masyarakat dipandang lebih penting ketimbang individu.
3. Individu bahkan tidak dilihat
sebagai unsur yang paling mendalammasyarakat, karena masyarakat terdiri dari
komponen seperti pern, posisi, hubungan dll.
4. Bagian-bagian masyarakat dianggap
saling berhubungan dan saling ketergantungan.
5. Perubahan dipandang bukan hanya
sebagai ancaman terhadap masyarakat dan terhadap komponennya, tetapi juga
terhadap invidu dan masyarakat.
6. Kecendrungan umum adalah melihat
berbagai komponen masyarakat berskala luas sebagai komponen yang berguna, baik
bagi masyarakat maupuan bagi individu yang menjadi anggotannya.
7. Unit-unit kecil seperti kelompok
keluarga, tetangga, keompok kagamaan dan mata pencaharian dipandang penting
bagi individu yang menjadi anggotannya.
8. Ada kecendrungan memandang
berbagai perubahan sosial modern seperti industrialisasi, urbanisasi dan
birokrasi dapat menimbulkan kekacauan tatanan.
9. Sementara kebanyakan perubahan
menakutkan itu mengarah pada kehidupan masyarakat yang lebih rasional.
10. Pemikir konservatif mendukung
keberadaan system hirarkis dalam masyarakat.
Perkembangan
sosiologi perancis
Dimulai dari perancis dimana peran yang dimainkan pada era
pencerahan yang menekankan pada reksi konervatif dan romantis terhadap
pertumbuhan teori sosiologi. Dari jalinan teori-teori itulah sosiologi itu
berkembang. Dalam konteks ini dibahas tokoh-tokoh utama di tahu-tahun awal
perkembangan sosiologi perancis, sperti Hendri Saint Simon yang berperan
penting terhadap pengembangan teori sosiologi konservatif, Aguste Comte adalah
orang pertama yang menggunakan istilah sosiologi, pengaruhnya sangat besar
terhadap teoritis sosiologi selanjutnya, dan Emil Drukhem yang dipandang
sebagai pewris tradisi pencerahan karena penekanannya pada sains dan revormisme
sosial.
Claude Henri Saint-Simon, ia memiliki sisi penting terhadap
pengembangan teori sosiologi konservatif (seperti yang dilakukan Comte) maupun
terhadap teori Marxian radikal. Di sisi teori konservatif ia ingin
mempertahankan kehidupan masyarakat seperti apa adanya, namun ia tak ingin
kembali ke kehidupan seperti di abad pertengahan sebagaimana yang di dambakan
de Bonald da de Maistre.ia mengatakan studi fenomena sosial sebaiknya
menggunakan teknik ilmiah yang sama seperti yang di gunakan dalam srudi sains.
Emile drukheim, dipandang sebagai pewaris tradisi konservatif khususnya seperti
tercermin dalam karya Comte. Bedanya, sementara Comte tetap berada diluar dunia
akademi namun Durkheim mengembangkan basis akademi yang kokoh untuk kemajuan
akhirnya, ia juga melegitimasi sosiologi di perancis dan karyanya kahirnya
menjadi kekuatan dominant dalam perkembangan sosiologi pada umumnya, dan
perkembangan sosiologi pada khususnya.
Perkembanagan sosiologi jerman
Peran Karl Marx dalam perkembangan sosiologi di Negara
jerman. Dikatakan bahwa perkembangan teori Marxian teori sosiologi dan cara
teori Marxian dapat mempengaruhi sosiologi secara positif maupun negatif.
Pembahasan dimulai dari dasar teori Marxian dalam hegelianisme, materialisme
dan politik. Ad du konsep yang mencerminkan esiensi filsafat Hegel yaitu
dialetika dan idealisme. Dialetika adalah cara berpikir dan citra tentang dunia.
Dialetika menekankan pada hubungan dinamikan konflik dan kontradiksi serta cara
berpikir dinamis. Sedangkan idealisme lebih menekankan pentingnya pikiran dan
produk mental ketimbang kehidupan material. Feuerbach merupakan jembatan
penting yang menghubungkan antara Hegel dan Marx. Feuebach banyak mngkritik
Hegel terhadap penekanan berlebihan pada kesadaran semangat masyarakat.
Feuebach menerima filsafat materialis ia menegaskan perlunya meninggalkan
idealisme subjektif Hegel untuk memusatkan perhatian bukan pada gagasan tapi
pada relitas kehidupan manusia.
Teori Marx, secara garis besar dapat dikatakan bahwa Marrx
menawarkan sebuah teori tenteng masyarakat kapitalis berdasarkan citranya
mengenai sifat mendasar manusia. Artinya untuk bertahan hidup manusia perlu
bekerja didalam dan dengan alam. Teori Weber, mengemukakan teori kapitalisme
tetepi pada dasarnya karya Weber adalah teori tenteng proses rasionalisme. Hal
ini dikarenakan ia tertarik pada masakah umum seperti mengapa institusi di
dunia barat berkembang semangkin rasional sedangkan rintangan kuat tampaknya
mencgah perkembangan serupa dibelahan bumi lain. Teori Simmel, ia bersama-sama
mendirikan masyarakat sosiologi jerman. Ia adlah teoritis sosiologi yang luar
biasa salah satu keistimewaanya adalah dia cepat berpengaruh besar terhadap
perkembangan teori sosiologi amerika, Karen salah satu pusat kajiannya yaitu
sosiologi amerika unversitas Chicago dan teori utamanya yakni interaksionisme
simbolik.
Asal usul sosiologi inggris
Sumber utaman sosiolgi inggris adalah ekonomi politik,
ameliorisme, dan evolusi sosial. Dalam sistem ekonomi politik menyangkut
masyarakat industri dan kapitalis yang sebagian berasal dari pemikiran adam
Smith. Smith mengatakan adanya kekuatan yang tak terlihat mnentukan pasar barang
dan tenaga kerja. Pasar dilihat sebagai realitas independe yang berdiri diatas
individu dan dapat mengendalikan individu. Evolusi sosial, pengertian yang
lebih mendalam tentang struktur sosial tersembunyi di bawah permukaan sosiologi
inggris dan baru meledak ke permukaan pada paruh akhir abad 19 dengan
berkerembangnya perhatian terhadap evolusi sosial.
Spencer dan Comte memberikan pengaruh terhadap perkembangan
teori sosiologi. Namun ada perbedaan penting diantara mereka , misalnya
sulitnya menggolongkan Spencer sebagai pemikir kondservatif. Sebenya ia lebih
tepat dipandang beraliran politik liberal dan ia tetap melihat unsure-unsur
liberlisme sepanjang hidupnya. Salah satu pandngannya adalah konservatifnya
yaitu penerimaanya atas doktrin laissez-fire.
Semua ini memperlihatkan kepada kita rumitnya
perubahan-perubahan sosial yang terjadi pada periode itu. Tidak hanya
perubahan-perubahan dalam institusi-institusi yang berbeda yang bersifatsaling
tergantung, tetapi juga perubahan-perubahan itu memberikan suatu kekuatan
dinamis dimana setiao bagian dari perubahan itu merangsang perubahan
selanjutnya.[2]
Auguste
Comte
A.
BIOGRAFI
COMTE
Auguste
comte (1798-1857) lahir di Montpellier Perancis bagian Selatan, putra dari
pejabat pemerintah kecil. Dididik di paris, pendidikannya yang terkonsentrasi
dalam matematika dan ilmu pengetahuan alam. Sebelum menyelesaikan sekolahnya,
ia dipecat untuk berpartisipasi dalam pemberontakan mahasiswa terhadap
administrasi sekolah. Dia daripada menjadi Sekretaris Henri Saint Simon,
pemimpin politik yang berpengaruh dan advokat versi pra-Marxis
sosialisme-sistem di mana sarana produksi (e.g.,industry) dimiliki oleh
orang-orang. Comte sangat dipengaruhi oleh Saint Simon, tetapi hubungan mereka
berakhir ketika comte dituduh melakukan plagiarisme, ia menyangkal tuduhan. Dia
memegang pekerjaan lain di Paris selama kira-kira 12 tahun, tapi ditolak lagi.
Dia telah membuat musuh-musuh yang terlalu banyak dan terlalu sedikit teman.
Comte
biasanya dikreditkan dengan menjadi "Bapak sosiologi" karena ia
diciptakan istilah sosiologi. Ia pertama kali disebut ilmu sosial yang baru ini
"sosial fisika" karena ia belived bahwa masyarakat harus mempelajari
cara ilmiah yang sama sebagai dunia ilmu-ilmu alam, Comte berkata, Sosiologi akan
menggunakan metode empiris untuk menemukan dasar hukum masyarakat, yang akan
menguntungkan manusia dengan memainkan peranan utama dalam perbaikan kondisi
manusia.
Comte
terkenal karena hukum progess manusia, yang menyatakan bahwa setiap dari
pengetahuan kita, semua manusia pengembangan intelektualnya, melewati
berturut-turut tiga condisions teoritis yang berbeda: (1) teologis, atau fiktif
(2) metafisik, atau abstrak (3) dan ilmiah, atau positif. Selain itu, setiap
manusia umur secara mental disertai dengan jenis tertentu dari organisasi
sosial dan dominasi politik. Pada tahap pertama, teologis, semuanya dijelaskan
dan understoond melalui supranatural. Keluarga adalah kesatuan sosial
prototipikal (model atau standar untuk yang lain yang sesuai), dan dominasi
politik dipegang oleh para imam dan personil militer. Dalam tahap kedua,
metafisik, abstrak pasukan diasumsikan sumber penjelasan dan pemahaman. Negara
menggantikan keluarga sebagai unit sosial propotypical dan, pertengahan dan
renaissance, dominasi politik dipegang oleh para rohaniwan dan pengacara. Pada
tahap ketiga dan tertinggi, ilmiah, hukum-hukum alam semesta yang belajar
melalui observasi, experimentasion dan perbandingan. Seluruh umat manusia
menggantikan negara sebagai unit sosial operasi, dan dominasi politik diadakan
oleh administrator industri dan ilmiah panduan moral. Itu comte's pernyataan
bahwa tahap ilmiah dari pengetahuan manusia dan pengembangan intelektual hanya
mulai pada zamannya. Menurut comte, Sosiologi, seperti ilmu-ilmu alam, selanjutnya
dapat menggambar pada metode Sains, selanjutnya dapat menggambar pada metode
sains untuk menjelaskan dan memahami hukum progess dan tatanan sosial.
Konsep
yang berkaitan dengan berasal oleh comte adalah pandangan bahwa masyarakat
adalah jenis "organisme". Seperti tumbuhan dan hewan, masyarakat
memiliki struktur yang terdiri dari banyak bagian yang saling terkait, dan itu
berevolusi dari sederhana ke bentuk lebih kompleks. Menggunakan model ini
organik sebagai dasar, dia berfikir bahwa sosiologi harus fokus pada sosial
Statika struktur organisme, dan dinamika sosial, proses organisme dan bentuk
perubahan. Comte belived bahwa sosiologi adalah cara yang lebih adil dan
rasional tatanan sosial dapat dicapai.[3]
B.
PERTAMBAHAN
PENDUDUK MENURUT COMTE
Didalam
buku yang berjudul The positive philoshophy of Auguste Comte, antara lain,
dikemukakan mengenai ajaran Comte yang secara langsung maupun tidak langsung berkaitan
dengan perubahan sosial. Menurut Comte, maka suatu gejala yang mempengaruhi
perkembangan adalah pertambahan penduduk secara alamiah. Pertambahan penduduk
tersebut menurut Comte, merupakan suatu faktor dengan pengaruh yang lebih besar
dari faktor-faktor lainnya. Pertambahan penduduk tersebut selalu diangap
sebagai gejala yang paling jelas dari meningkatnya perbaikan dari kondisi
manusia, oleh karena itu, adalah paling tepat untuk memperhitungkan keseluruhan
umat manusia, atau paling tidak,masyarakat-masyarakat yang mempunyai
kepentingan yang sama. Namun demikian, bukan hal itu yang menjadi pusat
perhatian Comte.
Comte
menjelaskan lebih lanjut, bahwa pusat perhatianya bukanlah pada pertambahan
jumlah manusia, akan tetapi pada konsentrasinya disuatu tempat tertentu, yang
kemudian dapat diterapkan pada pemusatan-pemusatan dimanapun dan pada masa apa
pun, dimana perkembangan manusia dimulai. Dengan menciptakan
keinginan-keinginan baru dan kesulitan-kesulitan baru, konsentrasi secara
gradual mengembangkan cara-cara baru,tidak hanya mengenai perkembagan, akan
tetapi juga mengenai ketertiban. Hal itu dapat dilakukan, dengan cara
menetralisasikam ketidaksamaan fisik dan meningkatkan kedudukan
kekuatan-kekuatan intelektual serta moral ( yang semula tertekan ). Kalau
diadakan telaah lebih mendalam mengenai efek dari konsentrasi yang lebih lambat
atau lebih cepat maka timbul dugaan bahwa gerakan sosial diakselerasikan oleh
pertentangan antara aspek-aspek konservatif dengan naluri-naluri pembaharuan
tersebut tmpaknya tambah diperkuat. Dalam hal ini, maka pengaruh sosiologis
dari pertambahan penduduk adalah analog dengan jangka kehidupan manusia.
Comte
percaya bahwa perkembangan yang lebih sempurna dari hakikat manusia dan
pengetahuan yang lebih berkembang mengenai hokum evolusi manusia,akan dapat
mengembangkan sarana-sarana untuk mengatasi bahaya tersebut. Comte
berpendirian, bahwa belum ada konsepsi yang jelas mengenai sarana untuk
mengatasi bahaya tersebut, hal itu sebenarnya bukan menjadi masalah (pada waktu
itu).Oleh karena itu , maka telah terhadap sistem pendapat manusia yang
fundamental yang menyangkut keseluruhan gejala yaitu sejarah filsafat , apakah
cirinya teologis, matafisik maupun
positif, harus menjadi patokan bagi analisa sejarah intelektual,yang dapat
dipergunakan untuk maksud itu.
Bahaya
dari berkurangnya perhatian terhadap hubungan timbale balik antara pelbagai
bagian atau unsur dari perkembangan manusia, dapatlah dicegah dengan cara
membandingkan bagian-bagian atau unsur tersebut, dengan tujuan untuk
mengidentifikasi persamaan dan perbedaannya . Hal-hal tersebut dapatlah
dilakukan dengan mempergunakan metode analisa sejarah.Dengan demikian telah
disajikan arah umum dari evolusi manusia, kecepatan perkembangannya, dna
ketertiban yang diperlukannya. Selanjutnya juga perlu ditelaah perihal
hukum-hukum alam yang didasari perkembangan jiwa dan pikiran manusia. Prinsip
ilmiah dan teori tersebut , menurut Comte terdiri dari hokum atau falsafah
perkembangan melalui tiga tahap yaitu tahap teologis primitif , tahap metafisik
transisional dan tahap positif yang terakhir. Tahap-tahap tersebut dilalui oleh
perkembangan jiwa dan pikiran didalam setiap bentuk spekulasi.
Comte telah memperkanalkan hukum tiga tahap yang
merupakan pemikiran modern dalam evolusi sosial pada waktu itu. Pemikiran itu
agaknya dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Turgot dan Condorcet. Comte berpendirian
bahwa evolusi kemanusiaan ditentukan oleh evolusi cita-cita : akan tetapi, dia
tidak menyampingkan faktor-faktor lain, seperti misalnya, pertambahan penduduk.([4])
C. HUKUM
TIGA TAHAP COMTE
Meskipun
perspektif teoritis Comte mencakup statika dan dinamika sosial, ( atau ahli
sosiologi sekarang ini menyebutkan struktur dan perubahan), perhatian umumnya
dalam bagian pertama dari kariernya adalah menjelaskan dinamika kemajuan
sosial. Kendati terjadi anarki yang ada. Tetapi memberikan ramalan-ramalan yang
dapat dipercaya mengenai masa depan menurut pemahaman akan hukum-hukum dinamika
sosial, dan pada gilirannya bergantung pada penelitian sejarah, yang akan
mengungkapkan dan menggambarkan bekerjanya hukum-hukum ini. Dengan Keyakinan
yang tinggi akan kepercayaan bahwa penelitian sejarah akan mengungkapkan
kemajuan manusia yang mantap, Comte menjelaskan bahwa tujuannya yang menyeluruh
adalah “ untuk menjelaskan setepat mungkin gejala perkembangan yang besar dari
umat manusia, dengan semua aspeknya yang penting , yakin menyampaikan mata
rantai yang harus ada dari perubahan-perubahan umat manusia mulai dari kondisi
yang hanya sekedar lebih tinggi daripada suatu masyarakat kera besar, seacara
bertahap menuju keperadaban Eropa sekarang ini”. Kepercayaan akan kemajuan
manusia yang tidak terelakan ini, sejalan dengan pemikiran evolusioner
kemudian. Hal ini juga mencerminkan pengaruh ide-ide pencerahan di abad ke 18.
Hukum tiga
tahap merupakan usaha Comte untuk menjelaskankemajuan evolusioner umat manusia
dari masa primitive ke peradaban Prancis abad ke-19 yang sangat maju. Hukum
ini, yang mungkin paling terkenal dari gagasan-gagasan teoretis pokok Comte,
tidak lagi diterima sebagai suatu penjelasan mengenai perubahan sejarah secara
memadai. Juga terlalau luas dan umum sehingga tidak dapat benar-benar tunduk
pada pengujian empiris secara teliti, yang menurut Comte harus ada untuk
membentuk hukum-hukum sosiologi. Secara singkatnya hukum itu menyatakan bahwa
masyarakat-masyarakat . Tahap- tahap ini ditentukan oleh cara pikir yang
dominan :([5])
1.
Tahap Teologis, manusia percaya bahwa dibelakang
gejala-gejala alam terdapat kuasa-kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan
gejala-gejala tersebut . Kuasa-kuasa ini dianggap sebagai makluk yang memiliki
rasio dan kehendak seperti manusia , tapi orang percaya bahwa mereka berada
pada tingkatan yang lebih tinggi daripada makluk-makluk insane yang biasa.
Zaman teologis itu sendiri dapat dibagikan lagi atas tiga periode. Pada taraf
paling primitive benda-benda sendiri dianggap berjiwa (animism), pada taraf
berikutnya manusia percaya pada dewa-dewa yang masing-masing menguasai suatu
lapangan tertentu: dewa laut, dewa gunung, dewa halilintar dan sebagainya
(politeisme). Dan pada taraf lebih tinggi lagi manusia memandang satu Allah
sebagai penguasa segala sesuatu (Monoteisme).
2.
Tahap Metafisis, kuasa-kuasa adikodrati diganti
dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang abstrak, seperti misalnya
“Kodrat” dan “penyebab”.Gagasan bahwa ada kebenaran tertentu yang asasi merupakan
hukum alam yang jelas dengan sendirinya menurut pemikiran manusia, sangat
mendasar dalam cara pikir metafisik. Metafisika dijunjung tinggi dalam zaman
ini.
3.
Akhirnya
dalam Tahap Positif sudah tidak
diusahakan lagi untuk mencari penyebab-penyebab yang terdapat dibelakang
fakta-fakta.Dalam zaman tertinggi ini manusia membatasi diri pada fakta-fakta
yang disajikan kepadanya. Atas dasar observasi dan dengan menggunakan rasionya
ia berusaha menetapkan relasi-relasi persamaan atau urutan yang terdapat anatara
fakta-fakta. Baru dalam zaman terakhir ini dihasilkan ilmu pengetahuan dalam
arti yang sebenarnya.
Seperti yang dikatakan diatas,
menurut Comte hukum tiga tahap ini bukan saja bagi perkembangan pengetahuan
umat manusia seluruhnya, melainkan berlaku bagi perkembangan pengetahuan umat
manusia seluruhnya, melainkan berlaku juga bagi manusia perorangan. Sebagai
anak setiap manusia berada pada zaman teologis, sebagai remaja ini ia masuk
zaman metafisis dan sebagai orang dewasa ia mencapai zaman positif. Akhirnya,
hukum tersebut belaku juga untuk perkembangan tiap-tiap ilmu. Mula-mula suatu
ilmu bersifat teologis, lalu berubah menjadi metafisis dan lama-kelamaan
mencapai kematangan positif.([6])
D.
AJARAN
STATIKA DAN DINAMIKA SOSIAL POSITIVISME COMTE
Dalam
buku ke VI yang merupakan bagian akhir karya utamanya cours de philosophy
positive , dengan panjang lebar August Comte
mengemukakan ajarannya tentang fisika sosial atau yang bisa ia sebut dengan
istilah “sociology”, sehingga disamping pendiri filsafat positivisme diabad
ke-19, August Comte sendiri mengaku bahwa Mostesquieu(1689-1755) dan Condorcet
(1743- 1744) merupakan para pendahulunya
dalam merintis ilmu sosiologi, namun sebutan sebagai “Bapak sosiologi” tetap
diberikan kepadanya.
Dalam
penggolongan ilmu pengetahuan telah diuraikan bahwa Auguste Comte memandang
sosiologi itu sebagai ilmu pengetahuan final atau puncak yang dikembangkan
manusia dan sesuai dengan kompleknya gejala-gejala yang dihadapi, maka
sosiologi belum dapat mencapai tahap positif dalam perkembangannya. Ini berarti
bahwa sosiologi sebagai ilmu masih belum mapan.
Namun
demikian melalui fisika sosial atau sosiologinya itu Auguste Comte mengemukakan
berbagai ajaran tentang usaha untuk memperbaiki keadaan dalam masyarakat.
Kesemuanya itu tidak lepas dari latar belakang yang berupa kekacauan sosial dan
politik yang timbul sebagai implikasi revolusi yang dialami negaranya yaitu
Perancis.
Pembagian
fisika sosial ke dalam statika dan dinamika sosial
Auguste
Comte membagi fisika sosial menjadi dua bagian yaitu statika sosial dan
dinamika sosial. Pembagian ini secara analogik diambil dari teorinya tentang “
Geometrical Phenomna of the Heavenly Bodies” yang dibaginya kedalam “Statical”
dan “Dynamical”. Karena itulah, orang yang secara kritis mengecam dan mengira
bahwa sejarah, dalam perkembangannya dapat diatur oleh hukum-hukum
tertentu-yaitu Karl Popper menyatakan bahwa
pengertian statika dan dinamika sosial oleh Auguste Comte dibagi dari
pembagian yang ia adakan dalam ilmu alam dengan mengira bahwa yang dimaksud dengan
statis dalam sosiologi itu sama dengan apa yang disebut sistem dalam ilmu alam
yang oleh para ahlinya disebut dinamis , sehingga menurut Karl Popper,
pembagian itu dinyatakan sebagai pembagian atas dasar pengertian yang salah.
Auguste
Comte sendiri menyatakan bahwa justru karena pembagian itu didasarkan atas
suatu analogi, maka pembagian itu bukan dimaksudkan untuk membedakan adanya dua
kelompok fakta dalam masyarakat, melainkan hanya sekedar untuk membedakan
adanya dua macam aspek sebuah teori ,yang dibutuhkan sebagai alat untuk
membedakan adanya dua kelompok fakta dalam masyarakat, melainkan hanya sekedar
untuk membedakan adanya dua kelompok fakta dalam masyarakat , melainkan hanya
sekadar membedakan adanya dua macam aspek sebuah teori, yang dibutuhkan sebagai
alat untuk mengadakan analisis tentang keadaan masyarakat.
1.
Statika
Sosial
Sebagai
bagian fisika sosial, maka statika sosial Auguste Comte dinyatakan sebagai “law
of coexistence” dan juga dimaksudkan untuk mempelajari hukum-hukum aksi dan
reaksi sebagai sistem sosial. Dalam uraian selanjutnya, ternyata bahwa dalam
statika sosial ini, Auguste Comte telah mengadakan analisis tentang keadaan
masyarakat dari segi statikanya.
Dikatakan bahwa tiga macam
unsure,yaitu : Individu, keluarga dan masyarakat merupakan syarat mutlak bagi
kelangsungan suatu kehidupan bersama,yang masing-masing harus difahami terlebih
dahulu ,sebelum kita melangkah untuk mengadakan analisis mengenai keadaan masyarkat
itu. Tentang individu , Auguste Comte bertolak dari pandangan Aristoteles yang
menyatakan bahwa manusia itu pada hakikatnya merupakan makhluk sosial, sehinga
menurut Comte, Individu itu selalu memiliki kecenderungan untuk menyatu dalam
ikatan suatu kelompok. Kecenderungan ini memang sesuai dengan naluri serta
kebutuhan dan tuntutan batinnya. Kecenderungan manusia untuk hidup berkelompok
bukan didasarkan atas pertimbangan untung-rugi , merupakan suatu kenyataan atau
kebutuhan tersendiri, karena dengan hidup dengan ikatan kelompok ini jiwa
manusia akan menemukan tempatnya didalam kehidupan moral dalam semangat
alturisme. Mengenai unsure kedua, dinyatakan bahwa keluarga itu adalah dasar
sosial yang sebenarnya. Dan pasangan suami istri merupakan dasar dari keluarga
tadi . Kenyataan sejarah menunjukan bahwa dari kesatuan keluarga inilah
kemudian berkembang menjadi suku , suku berkembang menjadi bangsa , sehingga
seluruh ras di manusia akan dapat dipahami sebagai perkembangan kelompok
keluarga yang bertingkat. Kesemuanya itu terjadi, Karena dalam kelompok
keluarga hubungan seksual berlangsung, disamping hubungan orang tua dengan
anak-anak,sehingga terwujudlah apa yang disebut bahwa ‘masyarakat’ merupakan
tempat untuk menjalin hubungan antara individu dengan unsure-unsur lain, yang
masing-masing mempunyai kepentingan yang amat luas. Kebutuhan adanya pengaturan
dan organisasi timbul untuk kelangsungan masyarakat itu. Dan kehidupan
masyarakat itu akan menjadi semakin kompleks, sejalan dengan perkembangan atau
kemajuan yang ada, melalui pembagian kerja, tukar menukar kebutuhan dan
pelayanan,hingga akhirnya berkembang menjadi masyarakat bangsa-bangsa.
Dinamika
Sosial
Dalam bagian
kedua fisika sosial ini yaitu dinamika sosial diterangkan hukum-hukum yang
mengatur perkembangan masyarakat. Dengan membagi Fisika Sosial menjadi Statika
sosial dan Dinamika sosial ini, tergambar jalan fikiran Auguste Comte yang
menekankan eratnya hubungan antara kedua bagian tersebut. Karena ketertiban
tanpa disertai kemajuan atau perkembangan akan mewujudkan sesuatu yang beku,
sedang kemajuan tanpa ketertiban akan melahirkan kekacauan. Didalam kemajuan
itulah, kita akan melihat aktualisasi kecenderungan yang dinamis ketertiban
masyarakat.
Dengan
menyatakan bahwa ketertiban dan kemajuan merupakan satu kesatuan yang tidak
terpisahkan, Auguste Comte ingin menunjukan bahwa ia berbeda dengan kaum klasik
yang selalu mempertentangkan ketertiban dan kemajuan tadi. Kaum klasik memang
selalu berusaha untuk mempertahankan ketertiban, akan tetapi dengan dilandasi
oleh suatu “retrograde spirit”, sedang kemajuan sosial selalu dipandang sebagai
sumber kekacauan atau anarki.
Selanjutnya,
dalam menerangkan dinamika sosial ini, secara konsisten hukum tiga tahap
Auguste Comte dijadikan kerangka referensi untuk menunjukan bagaimana dan ke
arah mana masyarakat itu akan berkembang.Ia gambarkan bahwa:
“There
can be no doubt that the development of the sciences, of in dustry, and even on
the fine arts, was historically the principal,though latents cause, in the
first instance of the irretrievable decline of the theological and military
system. At present, it is the ascendency of the scientific spirit which preserves
us from any real restoration of the theological spirit;as again, the industrial
spirit ,in its perpetual extension, constitutes our best safeguard against any
serious recurrence of the military or feudal spirit.”
Dengan
menjelaskan hukum-hukum perkembangan dalam rangka dinamika sosial ini,
tersimpul pula pandangan Auguste Comte tentang filsafat sejarah, yang
menunjukan bagaimana sejarah itu menurut Auguste Comte merupakan saat atau
waktu yang dibutuhkan manusia untuk meningalkan masa-masa gelapnya menuju ke masa
cerah. Masa cerah sebagai perwujudan suatu kemajuan yang dicapai umat manusia,
berupa masyarakat industry, yaitu masyarakat yang ditandai oleh peranan ilmu
pengetahuan dalam kehidupan masyarakat yang sangat menentukan setelah
masyarakat tahap metafisik dan tahap teologi, yang masing-masing ditandai
dengan peranannya kaum feodal dan kaum militer,dapat dilalui. Itulah masyarakat
dalam tahap positif yang menjadi arah perkembangan yang berlangsung secara
bertahap itu. Ajaran dinamika sosial yang tidak lepas dari hukum tiga tahap,
menunjukan bahwa Auguste Comte melihat suatu tahap definitive akan
dicapaai,yaitu tahap positif.[7]
Pitirim A
Sorokin
A.
Biografi Pitirim A Sorokin
Pitirim
Sorokin lahir di desa Turya, Rusia, pada 21 Januari 1889. Pelatihan ini
terkonsentrasi di Universitas St. Petersburg, meskipun ia juga belajar di
Institut psiko-Neurological di kota yang sama. Dari 1914 hingga 1916 ia
mengajar di Institut dan kemudian di Universitas, dimana ia adalah seorang
profesor sosiologi dari 1919-1922. Setelah bertugas sebagai Sekretaris
Kerensky, Sorokin dipaksa untuk meninggalkan negara oleh pemerintah Uni Soviet.
Periode singkat di Cekoslowakia, diikuti oleh beberapa perkuliahan di Amerika
Serikat, di mana ia diangkat sebagai profesor sosiologi di Universitas
Minnesota (1924-1930). Sorokin mendirikan departemen sosiologi di Universitas
Harvard yang dijabatnya hingga pensiun pada tahun 1959. Ia terpilih menjadi
Presiden American Association sosiologi (1965) dan terus menghadiri
pertemuan-pertemuan profesional seluruh dunia sampai tahun 1968.
Sorokin's
daftar publikasi yang besar dan pengaruh pribadi mencakup banyak daerah. Selama
periode Minnesota, ia mengatakan tertarik dalam kelas sosial, perubahan sosial,
dan kehidupan masyarakat pedesaan. Kunci bekerja periode itu mobilitas sosial
(1927) dan teori sosiologis kontemporer (1928). Di bekas dia dibedakan vertikal
dan horisontal bentuk mobilitas dan menunjukkan pentingnya saluran
institusional sebagai mekanisme mobilitas. Kedua bekerja disediakan ringkasan
unik dan kritis banyak teori sosiologis, dengan penekanan khusus pada
kekurangan bukan manusia dan berlebihan abstrak penjelasan.
Meskipun
Sorokin dan rekan-rekannya dijaga dan memerintahkan tubuh cukup bahan di
pedesaan-perkotaan kontras (prinsip dari Rural-Urban Sosiologi, 1929;
Sistematis sumber buku di pedesaan Sosiologi, 1930-1932), perubahan sosial dan
konsekuensinya datang untuk menjadi fokus utama selama bertahun-tahun. Setelah
menganalisis penyebab revolusi dalam Sosiologi revolusi (1925), ia mulai
belajar 4 volume mengesankan yang disebut sosial dan dinamika budaya
(1937-1941). Karya ini berputar di sekitar kontroversial tesis bahwa perubahan
dilacak dasar praanggapan budaya yang undergird masing-masing lembaga sosial
yang besar, dan bahwa praanggapan ini berubah karena setiap jenis mencemaskan
hanya sebagian dari pengalaman sosial yang kompleks. Sorokin karena itu
mengemukakan seri varyingly berulang siklus dalam perubahan sosial, dari
ideasional nyata (religiousintuitional) untuk sensate (tujuan-materialistis)
idealis (campuran jenis sebelumnya).
Dari
sudut pandang ini, Sorokin dikritik aplikasi dari sudut pandang ilmu
pengetahuan alam ilmu sosial, pertama di sosiokultural kausalitas, ruang dan
waktu (1943) dan dengan penuh semangat di mode dan kelemahan Modern sosiologi
(1956). Dalam nada yang terkait, ia menulis seperti Yeremia sosiologis terhadap
ekses budaya sensate modern — terutama dalam buku-buku tersebut sebagai krisis
dari kami zaman (1941), orang dan masyarakat dalam bencana (1942), rekonstruksi
kemanusiaan (1948) dan SOS: makna dari kami krisis (1951).
Sebagai
penangkal, Sorokin's terakhir 2 dekade kehidupan yang dikhususkan untuk
penyebab altruisme dan cinta, dimana ia mendirikan sebuah lembaga penelitian di
Harvard. Beberapa hasil yang menarik ini diterbitkan dalam altruistik cinta
(1950), bentuk dan teknik altruistik dan pertumbuhan rohani (1954), dan The
cara dan Power of Love (1954). Namun, Sorokin's ketenaran bersandar pada
beasiswa dan dorongan dari teori sosiologis nya. Karyanya akhir, sosiologis
teori hari ini (1966), adalah sebuah kritik yang rinci tentang tren dalam
Sosiologi sejak 1925. Ia meninggal di Winchester, Mass, pada 10 Februari 1968.[8]
B.
Pandangan Sorokin Mengenai integrasi
Sosial dan Budaya
Sorokin memusatkan perhatiannya pada
tingkat budaya,dengan menekankan pada arti, nilai, norma, dan symbol sebagai
kunci untuk memahami kenyataan sosio-budaya ; namun dia juga menekankan saling
ketergantungan antara pola-pola budaya, masyarakat sebagai sistem interaksi,
dan kepribadian individual. Tingkat tertinggi integrasi sistem-sistem sosial
yang paling mungin tercapai didasarkan pada seperangkat arti,nilai,”norma
hukum”yang secara logis dan berarti konsisten satu sama lain dan mengatur
interaksi antara kepribadian-kepribadian yang turut serta didalamnya. Meskipun
tingkat budaya integrasi penuh dengan
arti logis ditekankan sebagai data dasar untuk integrasi sosial paling tinggi
namun Sorokin tidak menyatakan bahwa kebanyakan tindakan atau interaksi
berintegrasi menurut arti ini.
Martindale
mengklasifikasi pandangan Sorokin sebagai cerminan dari “ Organisisme yang
dimurnikan”.Salah satu alasan Martindale melihat Sorokin sebagai seorang
organisis, dapat dilihat pada tekanan Sorokin pada pemahaman sistem sosio-budaya
secara keseluruhan. Prespetif organis ini menekankan pada independen dan
tradisi-tradisi budayanya sebagai suatu sistem yang terintegrasi. Alasan-alasan
penting lain untuk melihat Sorokin sebagai seorang ahli teori organis tanpa
asumsi-asumsi positivis adalah penolakan Sorokin untuk membatasi kebenaran pada
data empiris ,sebaliknya juga dia juga menunjukan suatu kerelan untuk menerima
suatu konsep mengenai kebenaran dan pengetahuan yang bersifat multidimensi ,
dengan data empiris memberikan sebagian pengetahuan. Sejalan dengan penekanan
Sorokin pada arti-arti subjektif, hal
itu memisahkan dia dari kelompok positivis yang menekankan data empiris sebagai
satu-satunya sumber pengetahuan yang sahih.
Penekanan
Sorokin pada berulangnya tema-tema dasar dimaksudkan untuk menolak gagasan
bahwa perubahan sejarah dapat dilihat sebagai suatu proses linear yang meliputi gerak dalam satu arah saja; dalam hal
ini Sorokin berbeda dari Comte yang percaya akan kemajuan yang mantap dalam
perkembangan intelektual manusia. Sorokin lebih suka melihat suatu prespektif
“Integralis” daripada mengklasifikasikan karyanya sebagai suatu teori
organis.Sejauh menyangkut teori sosiologi. Pendekatan Sorokin yang bersifat
“integralis” itu memungkinkan dia untuk mengkritik dengan keras gagasan bahwa
semua pengetahuan kita semua berasal dari data empiris. Sebaliknya dia mengemukakan bahwa data empiris hanya
memperlihatkan satu tipe kebenaran ,yakni kebenaran
indrawi . Juga kebenaran akal budi dan yang ketiga yaitu kebenaran kepercayaan atau intuisi .
Salah satu kritik Sorokin yang utama terhadap
teori-teori sistem budaya total atau sistem sosial adalah bahwa teori-teori itu
terlmpau menekankan tingkat integrasi dan kesatuan organisnya, dengan
mengabaikan himpunan-himpunan unsur yang sesungguhnya bukan merupakan bagian
dari sistem yang terpadu, kendati himpunan-himpunan itu hadir dalam ruang dan
waktu. Tetapi sementara Sorokin berpegang bahwa pendekatanya tidak sama seperti
pendekatan organis, penekananya itu jelas pada supersistem budaya yang berskala
besar memperlihatkan juga suatu kesatuan organis , tetapi totalitas suatu
kebudayaan masyarakat pada setiap tahap dalam sejarah dapat mencakup
himpunan-himpunan (congeries) yang tak terintegrasikan secara berarti kedalam
sistem organis yang dominan ini.
C.
Tipe-tipe Mentalitas Budaya Sorokin
Konsep ini mengacu pada pndangan dunia dasar yang mrupakan
landasan sistem sosio-budaya . Pandangan dunia yang asasi dari suatu sistem
sosio-budaya merupakan jawaban yang diberikan atas pertanyaan mengenai hakikat
kenyataan terakhir. Ada tiga jawaban logis yang mungkin terhadap pertanyaan
filosofis dasar itu. Pertama adalah bahwa kenyataan akhir itu seluruhnya
terdiri dari dunia materiil yang kita alami dengan indera. Yang lainnya adalah
bahwa kenyataan akhir itu terdiri dari suatu dunia atau tingkat kebenaran yang
melampaui dunia materiil ini; artinya kenyataan akhir itu bersifat transenden
dan tidak dapat ditangkap sepenuhnya dengan indera kita. Jawaban ketiga yang
mungkin adalah antara kedua ekterm dan keadaan itu, yang secara sederhana
berarti bahwa kenyataan ini mencakup dunia materiil dan transenden.
Atas dasar
itu ,Sorokin menyebutkan tiga mentalitas budaya dan beberapa tipe-tipe kecil
yang merupakan dasar untuk ketiga supersistem sosio-budaya yang berbeda-beda
itu.
1.
Kebudayaan Ideasional
Tipe
ini mempunyai dasar pikir (premis) bahwa kenyataan akhir itu bersifat
nonmateril, transenden, dan tidak dapat
ditangkap dengan indera. Dunia ini dilihat sebagai suatu ilusi, sementara, dan
tergantung pada dunia transenden, atau sebagai aspek kenyataan yang tidak
sempurna dan tidak lengkap. Kenyataan akhir merupakan dunia Allah atau Nirwana,
atau suatu konsepsi lainnya mengenai ada yang kekal dan tidak materiil. Tingkat
ini dipecah kedalam beberapa bagian:
a.
Kebudayaan Ideasional Asketik
Mentalitas
ini memperlihatkan suatu ikatan tanggungjawab untuk mengurangi sebanyak mungkin
kebutuhan materiil manusia supaya mudah diserap kedalam dunia transenden.
b.
Kebudayaan Ideasional Aktif
Selain
untuk mengurangi kebutuhan inderawi, tipe ini berusaha mengubah dunia
transenden.
2.
Kebudayaan Inderawi (Sentate
Culture)
Tipe ini didasarkan pada pemikiran pokok bahwa dunia materil
yang kita alami dengan indera kita merupakan satu-satunya kenyataan yang ada.
Eksistensi kenyataan adi-inderawi atau yang transenden disangkal . Mentalitas
ini dapat dibagi sebagai berikut :
a.
Kebudayaan Inderawi Aktif
Kebudayaan
ini mendorong usaha aktif dan giat untuk meningkatkan sebanyak mungkin
pemenuhan kebutuhan materiil dengan mengubah dunia fisik ini demikian, sehingga
menghasilkan sumber-sumber kepuasan dan kesenangan manusia. Mentalitas ini
mendasari pertumbuhan teknologi dan kemajuan-kemajuan ilmiah serta kedokteran.
b.
Kebudayan Inderawi Pasif
Mentalitas
inderawi pasif meliputi hasrat untuk mengalami kesenangan-kesenangan hidup
inderawi setinggi-tingginya . Sorokin menggambarkan pendekatan ini sebagai
suatu “ekploitasi parasit”,dengan motto, “makan, minukndan kawinlah, karena
besok kita mati”. Mengejar kenikmatan tidak dipengaruhi oleh suatu tujuan
jangka panjang apa pun.
c.
Kebudayaan Inderawi Sinis
Dalam
hal tujuan-tujuan utama, mentalitas ini serupa dengan kebudayaan inderawi pasif
, kecuali bahwa mengejar tujuan-tujuan jasmaniah/inderawi dibenarkan oleh
rasionalisasi ideasional. Dengan kata lain, mentalitas ini memperlihatkan
secara mendasar usaha yang bersifat munafik untuk membenarkan pencapaian tujuan
meterialistis atau inderawi dengan menunjukan sistem nilai transenden yang pada
dasarnya tidak diterimanya.[9]
3.
Kebudayaan Campuran
Kategori
inimengandung penegasan terhadap dasar pikir (premis) metalitas ideasional dan
inderawi. Ada dua tipe dasar yang terdapat dalam mentalitas kebudayaan campuran
ini:
a.
Kebudayaan idealistis
Kebudayaan ini terdiri dari suatu
campuran organis dari mentalitas ideasional dan inderawi sedemikian, sehingga
keduanya dapat dilihat sebagai pengertian-pengertian yang sahih mengenai
aspek-aspek tertentu dari kenyataan akhir. Dengan kata lain, dasar berpikir
kedua tipe mentalitas ini secara sistematis dan logis saling berhubungan.
b.
Kebudayaan Ideasional Tiruan (
Pseudo-ideational culture)
Tipe
ini khususnya didominasi oleh pendekatan inderawi, tetapi unsur-unsur
ideasional hidup secara berdampingan dengan yang inderawi, sebagai suatu
prespektif yang saling berlawanan. Tidak seperti tipe a diatas, kedua
perspektif yang saling berlawanan ini tidak terintegrasi secara sistematis,
kecuali sekedar hidup berdampingan sejajar satu sama lain.
Tipe-tipe dasar mentalitas budaya
ini terwujud dalam wacana-wacana materill yang tak terbilang jumlahnya dan
dalam norma-norma sosial yang mengatur perilaku individu. Analisa menganai
sistem sosial-budaya yang besar pada dasarnya meliputi penentuan tema budaya
itu, yang mendasari pelbagai bidang kegiatan budaya dan melegitimasi pola-pola
organisasi sosial yang dominan. Sorokin menekankan kecenderungan sistem
sosio-budaya kearah integrasi yang dalam hubungannya dengan mentalitas budaya
yang dominan, yang dinyatakan oleh sistem sosio-budaya itu dalam supersistem
sosio-budaya yang benar.
Secara panjang lebar Sorokin
membicarakan cara tema-tema budaya dasar ini dinyatakan, diwujudkan dalam
berbagai bentuk seni seperti lukisan, pahatan, music dan arksitektur. Dalam
lukisan misalnya, mentalitas ideasional dinyatakan dalam pernyataan simbolis mengenai
makluk-makluk transenden atau non empiris. Gaya idealistis dari lukisan berada
diantara pola-pola simbolis dari mentalitas ideasional dan pola-pola visual
dari mentalitas inderawi. Dengan kata lain, periode ideasional diikuti oleh
periode idealistis, yang akan diikuti oleh periode inderawi, yang diikuti olh
satu periode ideasional baru, dan seterusnya. Daripada meramalkan perkembangan
ilmu yang terus-menerus didasarkan pada suatu pandangan dunia materialistis,
Sorokin, secara profetis meramalkan suatu akhir dari periode inderawi dan pada
akhirnya kelahiran kembali suatu tahap baru mentalitas ideasional.
D.
Krisis Sistem Inderawi Abad kedua
Puluh
Prinsip
batas berlaku untuk kedua mentalitas budaya yang bertentangan, tetapi penekanan
utama diberikan pada batas-batas adisistem inderawi itu, Batas-batas ini
dibicarakan dengan nada profetis ketika Sorokin mencoba meramalkan masa depan
peradaban barat untuk waktu-waktu yang sisa dari abad kedua puluh dan
selanjutnya. Sorokin menyatakan bahwa abad ke dua puluh ini menyanksikan
buntunya jalan bagi adisistem inderawi yang telah berulang kali mendominasi
dunia barat selama empat ratus tahun silam. Karena dia melakukan pengolakan dan krisis di masa dia hidup, dia melihatnya
sebagai gejala yang berhubungan dengan kehancuran budaya yang sangat mendalam.
Kehancuran ini akan terus berlangsung sampai akhirnya digantikan oleh sistem
ideasional yang baru.
Analisa
Sorokin mengenai Krisis yang mendasar ini memperluas pemahaman kita mengenai
batas-batas yang terdapat dalam sistem inderawi. Analisa ini, disatu pihak
didasarkan pada hubungan yang erat antara mentalitas budaya yang dominan dan
tahap perkembangannya, dan dilain pihak pada solidaritas sosial. Sebagai
akibatnya, persaingan untuk memperoleh benda-benda materiil dan konflik
diantara orang-orang melonjak naik. Ancaman anarki intelektual dan sosial ini
merupakan satu alasan utama mengapa mentalitas inderawi tidak dapat brkembang
tanpa batas tetapi harus mengakhiri perjalananya itu.[10]
Nada profetis gambaran Sorokin mengenai
kemerosotan moral yang sudah “terlampau matang” dan tahap inderawi yang sedang
mati ini, jelas dilukiskan sebagai berikut:
1.
Nilai-nilai inderawi akan terus
semakin relatif dan otomatis sampai sekarang hancur sama sekali tanpa pengakuan
universal atau kekuatan mengikat apapun.Garis-garis batas antara nilai-nilai
yangsejati dn yang palsu, yang benar dan yang sala, yang indah dan yang buruk,
yang negative dan yang positif akan semakin kabur sampai akhirnya kekacauan
mental, moral, estetis, dan sosial merajalela.
2.
Paksaan kasar dan kecurangan yang
menjijikan akan menjadi satu-satunya hakim atas semua nilai dan semua hubungan
antar individu dan antar kelompok. Kekuasaan akan menjadi kebenaran. Sebagai
konsekuensinya, perang, revolusi, pemberontakan, kekacauan, kebiadaban akan
merajalela. Bellum omnium contra omnes – manusia lawan manusia, kelas , bangsa,
keyakinan dan ras melawan kelas, bangsa, keyakinan, dan ras- akan
memperlihatkan wajahnya
3.
Dengan meningkatkan anarki moral,
mental dan sosial dan menurunya kekreatifan mentalitas inderawi, produksi
nilai-nilai materiil akan menurun, depresi akan menjadi lebih buruk, dan
standar kehidupan materiil akan merosot.
4.
Dengan alasan yang sama, keselamatan
hidup dan pemilikan akan lenyap. Begitu pula ketenangan jiwa dan kebahagiaan.
Bunuh diri, sakit mental dan kejahatan akan meningkat. Kebosanan akan
menghadapi semakin banyak anggota penduduk.
5.
Penduduk akan semakin terbagi dalam
dua tipe : Kelompok hedonis inderawi dengan mottonya”makan,minum,dan cinta,
karena besok kita akan mati” dan kelompok asketik yang pandai menahan nafsunya,
yang acuh tak acuh dan bertentangan dengan nilai-nilai indeawi.[11]
Kita
meneruskan ramalannya yang akhir. Meskipun Sorokin bersikap pesimistis mengenai
masa depan yang sebentar lagi itu seperti yang diramalkan mengenai kehancuran
adisistem yang semakin besar, dia optimis bahwa suatu abad baru akan member
harapanakan muncul dalam jangka panjang. Sorokin akan mengatakan bahwa otoritas
itu hampir tidak dapat dipertahankan dalam menghadapi relativisme dan pemuasan
diri inderawi.
[1]
Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, jilid 1, terjemahan
Robert M.Z.Lawang, PT Gramedia,
hal 14-15
[2]
Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, jilid 1, terjemahan
Robert M.Z.Lawang, PT Gramedia,
hal 15-18
[3]
J.Ross eshleman, Sociology an introduction, Harper Collins College Publiser
31-32
[4]
Soerjono Soekamto, Teori sosiologi tentang perubahan sosial, Balai Aksara, hlm
59-61
[5]
Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, jilid 1, terjemahan
Robert M.Z.Lawang, PT Gramedia,
hal 84
[6]
prof.K. Bertens, Ringkasan Sejarah filsafat, Kanisius, halaman 78-79
[7][7]
Koento Wibisono , Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste Comte,
Gajah Mada Press, Yogyakarta, 1983, Halaman 49- 55.
[8]
Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, jilid 1, terjemahan
Robert M.Z.Lawang, PT Gramedia,
hal 95
[9]
Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, jilid 1, terjemahan
Robert M.Z.Lawang, PT Gramedia,
hal 99-101
[10]
Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, jilid 1, terjemahan
Robert M.Z.Lawang, PT Gramedia,
hal 105-107
[11]
Ibid, hlm. 699-701.
No comments:
Post a Comment